Rupiah terus melemah, modal bank kecil tergerus

Wednesday, September 19th 2018. | Keuangan

JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau perkembangan kondisi perbankan Tanah Air dalam menghadapi gejolak pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar AS.

Nelson Tampubolon, Dewan Komisioner OJK Bidang Perbankan mengatakan, pihaknya telah melakukan pertemuan dgn 16 bank untuk meminta kepastian kondisi keuangan mereka. 

Nelson bilang, perbankan yg diwakili 16 bank mengatakan pelemahan nilai tukar belum mempengaruhi bisnis keuangan bank karena posisi devisa neto (PDN) perbankan relatif cukup rendah, yakni per Januari sebesar 1,68% dari batas ketentuan PDN sebesar 20%. Namun, OJK tetap meminta perbankan untuk terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah. 

“Setiap bank sepakat untuk tetap perlu waspada kalau pelemahan ini terus berlanjut,” kata Nelson, Jumat (12/3).

OJK sebelumnya telah melakukan uji ketahanan atau stress test perbankan terhadap gejolak pelemahan nilai tukar. Hasil terburuk, ada lima bank yg akan tergerus rasio kecukupan modal atau capital adequacy (CAR) mereka jika rupiah melemah sampai Rp 15.000 per dollar AS.  

Irwan Lubis, Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perbankan OJK, Irwan Lubis menjelaskan, perbankan yg memiliki modal profil risiko di level 12%-13%, berpotensi terkena efek jika depresiasi rupiah mencapai Rp 15.000 per dollar AS.

Meski begitu, kata dia, bank yg akan terkena dampak tersebut cukup bank-bank kecil.

Rasio permodalan bank-bank kecil tersebut terkena efek akibat second round effect. Second round effect, terjadi akibat efek dari depresiasi rupiah yg membuat dampak terhadap peningkatan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) bank-bank tersebut. Hal ini bisa menimpa CAR perbankan meski tak berpraktek sebagai bank devisa. 

Irwan merinci, terdapat dua tipikal risiko yg bisa menimpa perbankan atas pelemahan rupiah jika menyentuh angka Rp 15.000. Pertama adalah risiko first round effect yg melalui risiko pasar. Artinya, jika perbankan memiliki exposure valas besar yg sifatnya jangka pendek, maka laba-rugi perbankan bisa terkena dampak akibat pelemahan rupiah sampai ke level Rp 15.000.

Kedua, adalah risiko second round effect yaitu melalui NPL. Hal ini dapat menimpa bank yg menyalurkan kredit kepada debitur yg usahanya bersentuhan dgn komponen-komponen impor atau juga penggunaan valas. Nah, jika kondisi debitur terganggu akibat nilai tukar rupiah yg terdepresiasi, maka dapat berakibat pada kelancaran pembayaran kredit.

“Akibatnya, pembentukan cadangan kerugian di perbankan semakin besar yg artinya berpengaruh terhadap laba-rugi perbankan, selanjutnya berimbas pada modal. Nanti akan terkena kepada profil risiko bank,” jelas Irwan.

Roy A. Arfandy, Direktur Utama Bank Permata menuturkan, pelemahan nilai tukar memang mempengaruhi bisnis bank seperti penyaluran kredit valas. Namun, bank pasti telah akan mengantisipasi semenjak awal seperti tak memberikan kredit valas kepada pengusaha yg berpendapatan rupiah, karena itu akan sangat berisiko.

“Jika ingin memberikan kredit valas maka perlu memastikan pendapatan debitur itu adalah valas,” ucapnya.

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.