Likuiditas valas perbankan masih aman

Friday, September 14th 2018. | Keuangan

JAKARTA. Penguatan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah tak membuat likuiditas valuta asing (valas) di perbankan menjadi kering. Para bankir mengatakan masih mengantongi banyak likuiditas valas, terutama dollar AS, sehingga memenuhi permintaan likuiditas dalam dollar AS. 

Royke Tumilaar, Direktur Treasury and Market Bank Mandiri mengatakan, likuiditas valas Bank Mandiri masih mencukupi, sehingga belum berniat untuk menarik pinjaman luar negeri. Saat ini, likuiditas valas Mandiri di atas US$ 3 miliar. “Ini cukup untuk keperluan ekspansi bisnis sampai tahun mendatang,” terang Royke, Kamis (11/3).

Selain ketercukupan likuiditas, Royke mengatakan, Bank Mandiri tak jor-joran menyalurkan kredit. Tahun ini saja, Bank Mandiri cukup mematok pertumbuhan kredit valas di bawah 10%, dari rata-rata pertumbuhan sebanyak 15%–17% di tahun-tahun sebelumnya. Dia menambahkan, permintaan valas dari pebisnis komoditas sangat kecil karena harga komoditas sendiri sedang tertekan.

Sama seperti Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA) juga mengatakan memiliki anggaran valas cukup besar, sampai mencapai US$ 2,7 miliar–US$ 3,1 miliar. “Apalagi BCA sangat membatasi penyaluran pinjaman dollar,” ujar Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA).

Ia menambahkan, BCA tak agresif menghimpun anggaran pihak ketiga (DPK) valas. Oleh sebab itu, emiten bersandi saham BBCA ini cukup memberikan kembang minim bagi DPK valas.

Sekedar catatan, porsi kredit valas BCA cukup US$ 1,5 miliar, atau di bawah 6% dari total kredit BCA. Ke depan, BCA akan membatasi penyaluran kredit valas tak lebih dari US$ 2 miliar.

Bank in akan menjaga pembiayaan di level US$ 1,4 miliar sampai US$ 1,8 miliar. “Kami memberikan pembiayaan atau kredit valas kepada perusahaan yg pendapatan valas,” imbuh Jahja.

Sebab, kala posisi dollar sedang menguat, sangat berisiko jika memberikan kredit valas bagi nasabah berpenghasilan rupiah.

Suwoko Singoastro, Direktur Tresury and Financial Institution Bank Negara Indonesia (BNI) mengatakan, BNI telah semenjak awal tahun membatasi penyaluran pinjaman valas. “Sumber anggaran valas kami bukan cukup dari DPK valas, tapi juga dari pendanaan non konvensional seperti global bond, bilateral loan dan bankers acceptance,” ujarnya. 

Merujuk kurs tengah Bank Indonesia, kemarin, kurs rupiah melemah tipis 0,09% ke level Rp 13.176   per dollar AS.

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.