Kesenangan tetap jalan, kocek tidak berantakan

Monday, January 30th 2017. | Personal Finance

Kesibukan mengejar karier, berkeluarga, dan memenuhi banyak tuntutan serta peran dalam berbagai lini kehidupan tak jarang menjebak seseorang dalam kondisi stres dan penat. Banyak cara ditempuh seseorang agar kepenatan dan stres hilang.

Salah satu yg lazim menjadi katarsis atau pelepas stres seseorang adalah dgn melakukan hobi atau kegemaran di waktu senggang. Selain menjadi pelepas stres, hobi juga sering dimafhumi sebagai penanda status atau gaya hidup. Maklum, ongkos hobi seringkali menguras isi kantong.

Tengok saja pengalaman Pu-tra Djohan, fotografer dan co-founder Aloke Pictures. Sejak empat tahun belakangan, Putra gemar mengoleksi jam tangan Casio H-shock. Harga koleksi Putra yg sekarang ini telah mencapai 40-an buah itu antara Rp 1 juta sampai Rp 10 juta. Bahkan, ada satu koleksi dia yg senilai satu unit mobil.

Hobi mengoleksi benda unik juga dijalani oleh Fetty Kwartati, Corporate Secretary PT Mitra Adiperkasa Tbk. Setelah sebelumnya mengoleksi tas-tas branded, kini Fetty tengah getol mengoleksi kain Nusantara, yaitu batik, tenun, dan songket, terutama kain kuno atau lawasan. Koleksi Fetty telah ratusan kain dgn rentang harga ratusan ribu sampai ratusan juta rupiah. Umur kain koleksi dia ada yg telah ratusan tahun. “Mimpi saya adalah memiliki galeri kain sendiri, suatu saat nanti,” ceritanya.

Membiayai hobi
Fetty mengatakan tak menyiapkan anggaran khusus untuk membiayai hobinya yg terbilang mahal tersebut. Ketika datang tawaran kain yg tengah dia incar, Fetty tak segan langsung membeli.  Maklum, barang incarannya termasuk barang langka sehingga anggarannya juga tak dia rutinkan.

Walau begitu, Fetty tak pernah merasa kesulitan finansial gara-gara berburu kain. “Hobi tak lebih prioritas dari keperluan pokok, jadi tak boleh menyusahkan,” ujarnya.
Sedang Putra mengatakan menyisihkan sebagian pendapatannya untuk keperluan hobi, walau penyisihan anggaran tersebut tak rutin. “Jumlah yg saya sisihkan juga tak  banyak dan nilainya selalu kurang untuk membeli koleksi,” ungkap dia.

Maka itu, dia juga kerap bersiasat memakai anggaran yg dialokasikan untuk penambahan alat fotografi. Pertimbangan Putra, ketika kelak membutuhkan anggaran pembelian alat fotografi, dia akan menjual jam koleksi. “Kecuali ada yg benar-benar langka, saya agak memaksakan diri. Misalnya, gesek kartu kredit,” cerita dia sambil tertawa.

Maklum, menurut Putra, pasar sekunder jam Casio H-shock cukup likuid. “Ada koleksi yg saya beli Rp 1,5 juta, sekarang telah ditawar Rp 6 juta namun tak saya lepas,” kata dia.
Rata-rata koleksi jamnya sekarang ini harganya telah naik Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per buah. Karena hobinya cukup menguntungkan, meski menyedot banyak anggaran atau modal, Putra mengatakan jadi semakin keranjingan mengoleksi.

Menyiapkan anggaran khusus untuk membiayai hobi juga ditempuh oleh Rony Rahardian, pemilik ONX Studio, yg hobi mengoleksi die cast, motor gede, dan sepatu.
Rony sengaja menyisihkan anggaran untuk hobi dari pendapatan dia sebagai seniman dan pemilik rumah desain. Namun, nominal anggaran yg dia sisihkan untuk membiayai hobi tersebut tak tentu. “Tapi, saat mendapat komisi, sepenuhnya saya pakai untuk hobi,” cerita Rony.

Rony kini mengoleksi 2 motor Harley Davidson, 3 vespa, 30-an buah sepatu Nike, dan die cast. Rony bilang, selain harga koleksi yg relatif menguras kantong, hobi dia mengutak-atik motor atawa modifikasi juga makan banyak biaya. “Tapi, customizing paling setahun sekali dan habis biaya paling-paling Rp 10 juta,” katanya.

Kebanyakan para kolektor ini juga percaya, barang koleksinya bernilai investasi alias dapat meningkat di masa depan. Maka itu, mereka tak terlalu mempersoalkan harga barang koleksi yg kadangkala cukup menguras kocek.

Jangan ganggu kocek
Hobi, dalam kamus perencanaan keuangan, termasuk keperluan tersier. Maka itu, untuk membiayai hobi, menurut para perencana keuangan, harus selalu disesuaikan dgn gaya hidup dan kemampuan finansial seseorang. “Jangan sampai hobi yg niatnya sebagai pelepas stres malah bikin kita semakin stres,” kata Sari Insaniwati, perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi.

Nah, bagaimana strategi yg tepat agar kesenangan kita atas hobi tak sampai menganggu kesehatan kocek? Simak sharing dari penghobi dan saran perencana keuangan:
Amankan yg dasar
Menjalani hobi yg menyedot biaya sah-sah saja, namun pastikan keperluan dasar Anda dan keluarga telah terpenuhi. Jangan sampai yg terjadi, hobi traveling ke mancanegara namun rumah masih menyewa. Atau, hobi mengoleksi barang mewah tapi utang kartu kredit menumpuk.

Dalam keuangan yg sehat, selain keperluan dasar, Anda perlu juga memastikan anggaran darurat keluarga telah terdapat. Begitu juga keperluan proteksi, seperti asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, dan beban utang yg tak melebihi 30% penghasilan. “Penuhi dulu yg dasar, kalau ada anggaran lebih dapat Anda digunakan untuk hobi,” ujar Sari.

Siapkan anggaran
Dalam anggaran rumahtangga, bujet untuk hobi masuk pos pengeluaran pribadi. Dalam pos tersebut juga ada anggaran pembelian baju, keperluan kecantikan atau olahraga, gagdet, dan lain-lain. “Maksimal pos pengeluaran pribadi adalah 20% dari penghasilan, Anda dapat anggarkan setengahnya untuk membiayai hobi,” kata Sari.

Pengalaman Ronny, dia bersepakat dgn istrinya bahwa anggaran untuk hobi ini masuk ke biaya tak terduga. “Setiap ada penghasilan, 50% saya alokasikan untuk bisnis dan 50% untuk keperluan rumahtangga dan biaya tak terduga,” kata dia.

Pandji Harsanto, perencana keuangan OneShildt Financial Planning, berujar, anggaran ideal untuk membiayai hobi seyogyanya tak melebihi 10% dari penghasilan. “Ingat, masih ada keperluan lain yg harus kita siapkan dananya, seperti keperluan sosial, tabungan atau investasi, juga keperluan rutin rumahtangga,” jelasnya.

Sifat hobi memang tak rutin. Maka itu, menurut Pandji, Anda tak perlu segan membuat rekening khusus untuk membiayai hobi alias rekening hura-hura. Sumber dananya dapat dari penyisihan penghasilan, pendapatan komisi atau dari penghasilan bonus tahunan. “Silakan menghabiskan rekening khusus untuk hobi, namun kalau masih kurang, jangan ambil dananya dari rekening lain, apalagi sampai mengambil anggaran darurat,” tegas Pandji.

Buat batas sendiri
Kesenangan adalah urusan rasa. Sedangkan, pengaturan kocek agar tetap sehat merupakan wilayah rasionalitas. Agar tak membabi buta, Anda dapat meniru langkah Fetty membiayai hobi mahal mengoleksi kain kuno. “Saya selalu menganalisa secara rasional sebelum membeli kain dan sedapat mungkin membuat batasan maksimal anggaran belanja kain setiap bulan,” ujar dia, tanpa menyebutkan limit anggaran belanja kain.

Apabila telah mencapai limit, Fetty mengatakan langsung berhenti belanja dan mengalihkan perhatian pada hal lain.

Jangan lirik utang!
Hobi penting agar jiwa tetap sehat di tengah berbagai tekanan dan tuntutan hidup. Namun, usahakan tak membabi buta dalam memenuhi hasrat berhobi. Misalnya, membiayai hobi dgn anggaran utang, seperti kartu kredit. Cara itu terlalu riskan dan dapat membahayakan kesehatan kocek Anda.
Ronny berujar, hobi tetaplah hobi, yg bukan keperluan pokok. Dus, ketika tak memiliki anggaran cukup untuk membeli, dia juga tak memaksakan diri. “Misalnya kelak harus saya jual, ya, lepas saja,” jelasnya.

Kapitalisasi saja
Hobi penting untuk kesehatan jiwa. Agar tak memberatkan kocek, mengapa tak mengapitalisasikan kesenangan? “Banyak cerita pebisnis yg bermula dari hobi, kan?” kata Sari.
Sebagai contoh, bila menggemari traveling, Anda dapat mendulang duit dari kisah perjalanan Anda ke majalah travel atau mengirim foto-foto ke media pariwisata. Kolektor barang mewah, seperti tas branded, juga dapat menyewakan sebagian koleksinya ke para peminat.

Anda cukup beruntung apabila memiliki hobi pada barang yg punya nilai jual tinggi. Seperti Putra dgn koleksi Casio H-shock yg memiliki banyak peminat. “Tahun lalu, harga Casio H-shock naik 20%,” ujar dia. Begitu juga koleksi kain kuno seperti Fetty, yg memiliki nilai jual tinggi karena kelangkaan dan nilai vintage.

Hobi lain, seperti hiking atau berkendara motor gede, juga dapat membantu Anda memperluas jejaring. Misalnya, hobi mengoprek motor gede sampai Anda cukup ahli memodifikasi kendaraan. Anda dapat mengomersialkan itu dgn memodifikasi kendaraan orang lain atau kawan sekomunitas.

Ingat asuransi
Apabila hobi Anda mengoleksi barang berharga mahal, ada baiknya Anda mengasuransikan koleksi tersebut agar risiko kerugian dapat ditekan. Anda dapat mendapat ganti rugi jika ada kejadian pahit seperti dialami Putra, yg kehilangan koleksi jam, kamera dan lensa, akibat rumah dia dibobol maling. Bila dirasa perlu, membeli asuransi atau menyimpan koleksi di safe deposit bank dapat Anda pertimbangkan.

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.