Rupiah loyo, simpanan dollar dilirik

Thursday, August 30th 2018. | Keuangan

JAKARTA. Rupiah anjlok bukan akhir segalanya. Justru, selalu ada peluang, termasuk pada saat rupiah melemah seperti sekarang. 

Sebagai gambaran, pertahanan rupiah terhadap dollar AS kian melemah. Kemarin, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah melemah 0,49% ke Rp 13.047 per dollar AS.

Sedangkan, di pasar spot sampai pukul 20.40 WIB, rupiah merosot ke level Rp 13.051, posisi terburuk  semenjak tahun 1998.

Bank besar juga telah menjual dollar di atas Rp 13.000. Bahkan, lima bank diantaranya memasang kurs jual dollar AS di atas Rp 13.100. 

Nah, rupiah yg sedang loyo dimanfaatkan nasabah bank untuk memupuk simpanan berdenominasi dollar AS. Hasil pantauan KONTAN di KCP Bank BCA Jalan Kyai Maja, Jakarta, aktivitas perburuan dollar meningkat. “Sejak dua minggu terakhir, di sini banyak nasabah yg membuka tabungan, deposito dan giro dalam dollar,” ujar Sari, salah satu customer service BCA, Jumat (6/3).

Aktivitas ini banyak dilakukan oleh nasabah prioritas BCA. “Mereka tak menukar dollar ke rupiah, melainkan menambah dan membuka simpanan dollar,” imbuh Sari. 

Toh, secara umum, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA menilai, animo masyarakat menyimpan dollar di bank belum besar. Lagi pula BCA justru sedang membatasi penghimpunan valas karena likuiditas valas BCA masih memenuhi permintaan kredit. “Simpanan valas akan naik jika bank memberi kembang simpanan tinggi,” kata Jahja. 

Tren peningkatan simpanan valas juga terjadi di Bank BNI. Darmadi Sutanto, Direktur Konsumer dan Ritel BNI mengatakan, kenaikan animo masyarakat menyimpan dollar AS telah terjadi pada beberapa pekan terakhir. 

BNI pun memanfaatkan situasi ini untuk menghimpun anggaran pihak ketiga (DPK) valas. Tahun ini, BNI menargetkan pertumbuhan DPK valas 14%-16%. Tahun lalu, DPK valas BNI turun 5% menjadi setara sekitar Rp 43,94 triliun. 

Memang, peningkatan tersebut tak terjadi merata di semua bank dan di semua wilayah. Di Bank BRI Cabang Palmerah, Jakarta, misalnya, belum tampak kenaikan pembukaan simpanan valas. “Belum ada permintaan untuk simpanan tabungan dan deposito valas baru,” tutur Rendy Wahyu, Customer Service di kantor tersebut, kemarin.

Roy A. Arfandy, Direktur Utama Bank Permata berpendapat, pelemahan rupiah belakangan ini tak berdampak langsung pada kenaikan simpanan valas di perbankan.

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.