Mengulur mi basah, menarik labanya

Thursday, February 4th 2016. | Peluang Usaha

Di Indonesia, kuliner yg menjual olahan mi punya banyak penggemar. Peluangnya masih terbuka, terlihat dari peningkatan penjualan para pemainnya. Proses pembuatannya mudah, tapi tetap utamakan kualitas.

Bagi orang Indonesia, mi telah seperti makanan pokok pengganti nasi. Bak gula pengundang semut, usaha mi pun tumbuh subur. Gerai yg menjual mi menjamur di banyak tempat. Ini jadi kesempatan menarik bagi pengusaha yg tertarik untuk memproduksi mi basah.

Setidaknya ada dua hal yg mendukung pertumbuhan bisnis pabrik mi. Pertama, jumlah penduduk Indonesia yg besar. Kedua, banyaknya gerai yg menyajikan mi. Dus, permintaan mi basah dari tahun ke tahun pun kian meningkat.

Hal itu diutarakan oleh Wiyono Gunawan, pemilik pabrik mi di Malang, Jawa Timur. Usaha mi bernama Mi Gloria yg digawangi Wiyono telah dimulai semenjak 1971 oleh sang ayah. Saat ini, Wiyono meneruskan dgn tak cukup memproduksi mi di pabrik, tapi juga membuka outlet penjualan mi, serta depot cui mi di Malang bersama keluarganya.

Wiyono mengatakan, tiap terjadi peningkatan kapasitas produksi di pabriknya, permintaan selalu naik. Pertumbuhan wisatawan di Malang, serta penambahan kedai yg menjual mi membuat bisnisnya meningkat 7% –10% saban tahun.

Mi Gloria memasok mi basah untuk puluhan pedagang mi gerobak, depot, restoran, hotel, dan katering di Malang, Surabaya, dan Kediri. Kapasitas produksi Mi Gloria per hari lebih dari 300 kg. Harga jual mi basah produksi Wiyono berkisar Rp 10.000–Rp 17.500 per kg. Dus, keuntungan yg ia peroleh dari bisnis ini mencapai Rp 100 juta per bulan.

Pemain lain dalam bisnis mi basah ialah Sakidjan, yg sukses dgn usaha Mie Kondang di Jakarta. Ia telah berjualan mi ayam semenjak 1975, tapi saat itu ia masih mengambil pasokan mi basah dari pembuat lain. Gara-gara permintaan semakin banyak, ia memutuskan bikin mi basah sendiri sambil tetap menjual mi ayam.

Menurut Sakidjan, pasar mi basah masih sangat luas. Hanya, persaingan tak dapat dihindari. Untuk itu, kualitas dan kebersihan mi basah harus sangat diperhatikan. “Selain enak, yg namanya makanan juga harus bersih. Itu yg utama dicari konsumen,” katanya.

Kapasitas produksi Mie Kondang bertambah tiap tahun. Pabrik ini tak cukup membuat mi basah untuk memenuhi keperluan di outlet mereka, tapi juga menyuplai mi basah untuk pedagang mi ayam di Jabodetabek. “Kami juga punya bagian katering yg menyajikan mi ayam untuk keperluan pesta atau event tertentu,” ujar Pandiono, salah satu penerus usaha Mie Kondang.

Pandiono bilang, sepanjang tahun 2014, gerainya bertambah jadi 187 outlet. Tahun sebelumnya, outlet Mie Kondang cukup 130. Otomatis, kapasitas produksinya juga bertambah mencapai 25%. Saat ini, dalam sehari, Mie Kondang memproduksi sampai 20 sak mi basah. Satu sak mi basah berisi 25 kg.

Harga jual mi yg dibuat berkisar Rp 12.000–Rp 15.000 per kg. Harga ini, kata Pandiono, bergantung pada penggunaan telur untuk membuat mi. “Ada yg minta mi tanpa telur, ada juga yg minta telur,” ucapnya.

Menurut hitung-hitungan KONTAN, dalam sebulan Mie Kondang dapat menghasilkan keuntungan Rp 180 juta. Adapun laba bersih dari usaha ini, kata Sakidjan, mencapai 20% dari keuntungan.

Kenaikan harga bahan bakar minyak tahun lalu tak lantas membuat Pandiono menaikkan harga jual mi basah. “Banyak bahan baku naik drastis, tapi kami tunggu tiga bulan sebelum menaikkan harga,” ujarnya.

Nah, belum tiga bulan, harga BBM diturunkan, demikian pula harga bahan baku mulai stabil. Jadi, menurut dia, untuk sementara, mengerek harga bukanlah opsi yg akan diambil untuk meraih keuntungan. Untuk menekan ongkos produksi, Pandino mengurangi bobot mi basah. Jika dulu tiap satu kilogram mi basah dibagi 13 gulung, kini ia menjualnya dalam 14 gulung mi.

Hal yg sama juga diucapkan Wiyono. Peningkatan harga BBM tak menimbulkan dampak signifikan pada penjualan mi di pabriknya. Apalagi, pengumuman kenaikan itu dilakukan mendekati akhir tahun. “Malah semakin banyak turis yg semangat berkuliner di Malang, jadi penjualan aman,” cetusnya.

Wiyono mengakui biaya produksi meningkat, tapi tak lebih dari 5%. Pasalnya, ada kenaikan harga bahan baku telur  dan tepung terigu, serta ongkos angkut dan kuli, biaya pengiriman, tambahan uang transpor karyawan. “Saya memutuskan untuk menaikkan harga produk pada pertengahan Januari karena upah karyawan dan tarif listrik juga naik,” ujar dia.

Wiyono menambahkan, peluang untuk mendirikan pabrik mi pada 2015 masih ada. Dengan jumlah penduduk yg banyak, masyarakat Indonesia merupakan pemakan mi nomor tiga di dunia. Mi juga telah dianggap sebagai makanan sehari-hari sehingga muncul banyak restoran yg menyediakan menu mi. “Bagi sebagian orang, mi basah lebih bergengsi dari mi kering,” tuturnya.  

 

Tak cukup bikin mi  

Para pembuat mi basah menuturkan, rata-rata pembuat mi basah juga menjual mi olahan, khususnya mi ayam. Ini dilakukan tak cukup untuk menambah keuntungan. Akan tetapi, konsumen dapat melihat langsung kualitas dari mi yg dibuat.

“Sebelum mulai produksi, buktikan dulu kalau dapat berhasil jualan mi olahan. Itu yg banyak dijalankan pembuat mi basah seperti saya,” kata Sakidjan.

Di samping itu, jika sedang sunyi order dari pedagang mi lain, setidaknya produksi tetap berjalan untuk dijual di depot mi sendiri.

Hal itu disetujui oleh Wiyono. “Dulu ayah saya juga punya depot bakmi. Dari situ orang-orang tahu bahwa ia juga ternyata menjual mi mentah, jadi banyak yg pesan,” ujarnya.

Namun, Wiyono menambahkan, jika tak berjualan mi olah-an pun, usaha mi basah tetap jalan. Kunci utama terletak pada diferensiasi produk. Kebanyakan pembuat tak mau memenuhi orderan mi yg khusus karena merepotkan.

Wiyono bilang, di Malang banyak pemain besar yg cukup memproduksi mi basah tanpa menjual mi olahan. Namun,  mereka merupakan pemain lama yg telah punya nama sehingga orang-orang telah percaya. Adapun pemain baru, kalau tak melakukan diferensiasi produk, paling-paling banting harga. Sementara, harga tepung sangat fluktuatif. “Kalau harga tepung naik, harga mi tak dapat langsung dinaikkan jadi harus pintar-pintar menjual produk,” tukasnya.

Di sisi lain, hal ini membuat pengusaha membutuhkan banyak karyawan untuk ditempatkan di outlet. Mie Kondang, misalnya. Dari total 38 orang yg bekerja di pabrik ini, cukup empat orang di bagian produksi. Sisanya, ada di outlet penjualan untuk melayani konsumen secara langsung.

Anda tertarik menggeluti bisnis pembuatan mi?

Untuk mendirikan pabrik kecil atau rumahan di wilayah Jabodetabek, modal yg dibutuhkan memang tak kecil. Menurut Pandiono, untuk merintis pabrik mi basah sekarang ini, pengusaha harus merogoh kocek di atas Rp 100 juta sebagai modal.

Sementara Wiyono menyarankan, modal usaha diambil dari tabungan sendiri dibandingkan dgn mengajukan kredit pada bank. “Karena bagi saya, cara  berbisnis yg benar dimulai dari skala kecil,” tandasnya.

Nah, bila bisnis telah berjalan dan ingin diperbesar, boleh pinjam modal tambahan dari bank. Dus, sebagian keuntungan dapat digunakan untuk bayar angsuran. Dengan demikian, pengusaha dapat dgn cepat mendapat uang kontan daripada tunggu menabung.

Adapun dari urusan perizinan, tak begitu banyak yg harus diurus. Wiyono bilang, minimal pabrik mi basah harus mengurus ijin gangguan (HO), tanda daftar industri, dan sertifikat pangan industri rumah (PIRT) ke dinas kesehatan.

Wiyono mengingatkan, beberapa hal mutlak dihindari dalam usaha ini. Yang paling utama ialah: tak menambahkan zat yg bersifat racun ke dalam produk mi, misalnya formalin atau boraks. Bisnis makanan harus menggunakan bahan yg food grade. “Sikap tamak atau ingin untung besar juga dihindari agar tak tergoda untuk mengganti bahan baku dgn kualitas yg lebih rendah,” tandasnya.

Menurut penuturan Pandiono dan Wiyono, ada tiga faktor yg harus diperhatikan untuk merintis pabrik mi, sebagai berikut:     

• Mesin

Saat ini, telah terdapat set mesin pembuatan mi yg terdiri dari mesin pengaduk adonan (mixer), mesin rolling untuk membentuk mi, serta mesin pemotong mi. Harganya belasan  sampai puluhan juta rupiah.

Baik Sakidjan maupun Wiyono memilih untuk memesan mesin agar sesuai dgn keperluan produksi. Mesin pembuat mi milik Sakidjan diorder pada tukang bubut. Harganya banyak. Untuk mikser, Sakidjan bilang harganya berkisar Rp 20 juta–Rp 24 juta. Sementara mesin pres sekitar Rp 18 juta–Rp 26 juta, serta mesin potong Rp 17 juta.  “Modal yg paling banyak saya keluarkan saat memulai bisnis ini adalah untuk membeli mesin,” kata Sakidjan.

Wiyono pun demikian. Apalagi mesin yg dimiliki pabrik Mi Gloria cukup banyak. Mi Gloria memiliki dua mesin pengaduk adonan, 10 mesin rolling, serta empat mesin potong.

Menurut Wiyono, mesin pembuat mi ini memang tak boleh cukup satu buah alias harus ada cadangan. Pasalnya, hampir 100% proses pembuatan mi dikerjakan mesin.

Di sisi lain, produksi mi basah harus dilakukan tiap hari untuk menjaga kesegarannya. Saking banyaknya orderan, Wiyono tak pernah meliburkan pabriknya lebih dari dua hari. “Saya harus memastikan proses produksi harus lancar tiap hari, salah satunya dgn menyediakan mesin serep kalau ada mesin yg rusak,” ucapnya.

Pemilik pabrik mi pun tak boleh abai dalam perawatan mesin. Setidaknya tiap bulan, mesin dirawat dan dicek agar terus dapat beroperasi. Lanjut Wiyono, untuk mesin dapat menggunakan produk dalam negeri yg kualitasnya telah bagus.

• lokasi usaha

Menurut Sakidjan, produksi mi basah dapat dilakukan dalam skala rumahan.  Makanya, dulu ia menggunakan rumahnya sendiri sebagai tempat produksi. “Ruangan tak butuh yg terlalu besar yg penting bersih,” tegas Sakidjan.

Untuk memproduksi mi basah, Sakidjan menggunakan pabrik seluas 60 m2. Selain untuk produksi, pabrik ini dibutuhkan untuk menyimpan bahan baku serta gudang penyimpanan sementara mi basah yg telah selesai dibuat.  “Lokasinya tak harus di kota, tapi jangan terlalu jauh juga dgn konsumen,” katanya.

Bagi Wiyono, tempat harus jadi hal pertama yg diperhatikan ketika memulai bisnis pembuatan mi basah. lokasi produksi diusahakan ada di tengah kota agar mudah dijangkau. Pasalnya, kebanyakan pedagang mi basah berada di tengah kota. “Kalau saya bikin pabrik di pinggiran, orang akan susah mencapai pabrik sementara mereka butuh mi yg segar jadi tak boleh terlalu lama di perjalanan,” kata dia.

Pola penjualan mi basah, kata Wiyono, produksi hari ini juga harus habis di hari yg sama. Dus, lokasi produksi harus dekat pasar untuk mempermudah distribusi dan konsumen yg membeli.

Untuk itu, Wiyono bilang, investasi terbesar dalam usaha ini ialah biaya sewa atau pembelian pabrik. Saat ini, Mi Gloria punya pabrik seluas 300 meter persegi di Malang. “Besarnya investasi bergantung pada lokasi pabrik karena ini membutuh investasi besar,” ujar Wiyono.

• Bahan baku

Wiyono mengatakan, pembuatan mi basah cukup mudah. Ada empat tahap yg dilewati, yakni pembuatan adonan, pemampatan adonan jadi lembaran, penipisan lembaran, serta pemotongan lembaran menjadi mi. Dari keempat tahap itu, yg paling sulit ialah penipisan mi sehingga dapat sesuai dgn keinginan pembeli. “Kadang-kadang setelah ditipiskan, hasilnya dapat melesat beberapa milimeter dari seharusnya,” kata Wiyono.

Untuk membuat mi, bahan baku utama adalah tepung terigu. Lantas bahan lain yakni telur, air, dan garam.

Sakidjan bilang, satu bal tepung terigu dapat menghasilkan sekitar 30 kg mi basah. “Hasilnya jadi lebih berat karena ada penambahan air,” ujarnya. Menurut takaran Wiyono, tiap 1 kg tepung terigu dapat menghasilkan 1,2 kg mi basah.

Belanja bahan baku diakui oleh Sakidjan dan Wiyono jadi biaya terbesar dalam pengeluaran bulanan mereka. Dalam sebulan, bahan baku dapat mencaplok 70% dari total pengeluaran per bulan. Kemudian disusul pembayaran gaji karyawan dan biaya operasional.

Salah satu kesulitan dalam usaha mi basah ialah produk tak dapat tahan lama. Dus, pembuat pun tak dapat stok  terlalu banyak. Proses produksi harus dimulai saat subuh agar lebih cepat juga dikirim pada konsumen.

Wiyono menekankan agar pembuat memilih bahan baku yg bagus bukan murah. Pasalnya, untuk memproduksi mie basah diperlukan kualitas tepung terigu yg bagus. Artinya, tepung terigu harus tinggi protein, kadar gluten tinggi, dan kadar abu yg rendah.                                            

 

Search terms:

gerobak kue basah, bisnis jualan kue, contoh gerobak jualan kue basah, gerobak jualan kue basah, jualan kue basah dijalan,

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.