Tak pelit berbagi ilmu membuat mesin pakan (3)

Sunday, January 17th 2016. | Peluang Usaha

Sutadi sukses menjadi pengusaha pakan ikan patin di Martapura Barat, Kalimantan Selatan. Banyak pembudidaya ikan patin mengambil pakan darinya karena harganya jauh lebih murah dibandingkan pakan bikinan pabrik. Menurut Sutadi, biaya pakan mengambil porsi terbesar dalam biaya pemeliharaan patin. “Hampir 70% itu buat pakan,” katanya.

Tanpa manajemen pakan yg baik, pembudidaya patin dapat merugi. Apalagi, banyak pembudidaya yg tak tahu teknik yg benar dalam pemberian pakan.

Dari yg dia amati, banyak pembudidaya memberi makan semaunya dgn harapan patin dapat cepat besar. Tapi kalau terus menerus menggunakan pakan pabrikan yg mahal, bukan keuntungan yg didapat melainkan kerugian. Menurutnya, bila menggunakan pakan pabrikan membutuhkan biaya sampai Rp 5 juta per hari. Tapi kalau buat sendiri tak sampai Rp 3 juta.

Selain lebih murah, ikan patin juga lebih cepat dipanen. Sutadi mengatakan, tak pernah pelit berbagi ilmu dgn sesama pembudidaya ikan patin.
Ia mengatakan, telah banyak pembudidaya patin yg belajar cara membuat mesin pakan darinya. Setelah tahu cara kerjanya, para pembudidaya lalu membuat sendiri mesin tersebut.

Makanya, model mesin maupun kapasitas produksi semuanya beda-beda. Ada petani yg dapat membuat mesin dgn kapasitas produksi pakan sebanyak 100 kilogram (kg) per hari, 300 kg per hari, dan ada juga yg 500 kg per hari. “Sekarang di wilayah minapolitan Kabupaten Banjar telah ada 10 petani yg membuat pakan sendiri, dan semoga hal ini dapat dicontoh petani lainnya,” kata Sutadi.

Saat ini, Sutadi memiliki dua unit mesin. Dalam waktu dekat, ia akan menambah dua mesin baru agar kapasitas produksi semakin meningkat.
Maraknya penggunaan mesin pribadi ini tentu ada dampak negatifnya. Yang jelas, kata Sutadi, keperluan solar akan terus meningkat. Sementara akses untuk mendapat solar di Kelurahan Sungai Batang sangat sulit.

Sutadi kerap membawa dirigen ke berbagai tempat penjualan BBM untuk membeli solar. Kadang ia sering dituduh ingin menyalah gunakan BBM bersubsidi.  “Padahal padahal kalau beli di luar mahal, susah sekali beli solar. Seharusnya ada jatah solar buat nelayan di Sungai Batang ini,” katanya.

Kendala ini pun telah ia sampaikan ke Dinas KKP Provinsi Kalimantan Selatan tapi belum mendapat respon.Selain kendala solar, produksi pakan juga kerap terganggu saat musim hujan. Pasalnya, pakan yg selesai dibuat ditampung dalam wadah plastik dan harus dijemur beberapa jam di bawah sinar matahari.    

(Selesai)

Search terms:

kascing untuk pakan lele,

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.