BCA: Kerugian sinkronisasi token tak besar

Thursday, July 12th 2018. | Keuangan

JAKARTA. PT Bank Central Asia (BCA) Tbk mengungkapkan, jumlah kerugian yg diderita akibat masalah “Sinkronisasi Token” tak besar. Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja menyatakan, perseroan mengganti seluruh anggaran nasabah yg hilang akibat masalah ini.

Jahja bilang, sampai kemarin, Kamis (5/3), kerugian nasabah yg diakibatkan oleh masalah “Sinkronisasi Token” ini sebesar Rp 800 juta. “Dana yg dapat ditahan oleh BCA adalah sebesar Rp 270 juta. Jadi mungkin kami mengganti sebesar Rp 600 juta dan anggaran sebesar itu untuk operasional kami tak besar,” ucap Jahja di Gedung Menara BCA, Jakarta, Jumat (6/3).

Oleh karena itu, Jahja meminta kepada nasabah jika sedang mengakses Internet Banking dan diminta untuk melakukan “Sinkronisasi Token” berulang-ulang kali, baiknya nasabah segera melaporkan hal tersebut kepada Halo BCA di nomor 500-888. Langkah pengaduan melalui telepon ke Halo BCA ini merupakan langkah prefentif atau pencegahan yg dapat dilakukan oleh BCA sedini mungkin untuk mengurangi kerugian nasabah.

Jahja menjelaskan, ketika ketika nasabah mengadukan masalah “Sinkronisasi Token” ke Halo BCA, maka pihak Halo BCA akan memandu nasabah untuk menghapus virus yg ada di personal computer (PC) milik nasabah. Sebab, kata Jahja, selama di PC nasabah terdapat virus, maka akan selalu terjadi masalah “Sinkronisasi Token” tersebut.

“Selama PC nasabah masih memiliki virus, maka akan dicoba terus untuk dijebol. Masalah ini sebenarnya adalah pengulangan dua tahun lalu. Hal ini bukan cukup melanda BCA melainkan semua bank, termasuk bank asing,” jelas Jahja.

Bank dgn kode emiten BBCA ini telah melaporkan masalah “Sinkronisasi Token” saat mengakses Internet Banking kepada pihak regulator yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Hingga sekarang ini, regulator terus meminta pihak bank untuk selalu menginformasikan pencegahan dan penanggulangan masalah “Sinkronisasi Token” kepada nasabahnya.

“Kami diminta untuk terus menyosialisasikan kepada masyarakat tentang masalah sinkronisasi token ini. Saat ini gadget banyak dan dapat didompleng oleh virus. Karena ada PC yg aman dari virus, tapi ada juga yg tak aman. Virus ini memang bukan menyerang sistem IT BCA, melainkan software milik nasabah,” kata Jahja. 

Sebelumnya, BCA mengungkapkan bahwa jumlah nasabah yg terkena masalah “Sinkronisasi Token” saat mengakses Internet Banking sebanyak 43 nasabah, dan bukan 1.000 nasabah sebagaimana diberitakan sebelumnya.

Sekretaris Perusahaan BCA Inge Setiawati dalam penjelasan resminya menuturkan jumlah itu diketahui setelah perseroan melakukan konfirmasi data nasabah. “Berdasarkan konfirmasi jumlah nasabah yg terkena 'sinkronisasi token' adalah sebanyak 43 nasabah,” tulis Inge dalam keterangan resmi.

Masalah “Sinkronisasi Token” beredar informasi di media sosial, di mana seorang nasabah BCA yg merasa bahwa rekeningnya dibobol setelah dia berulang kali gagal melakukan transaksi internet banking BCA. Saat nasabah tersebut melakukan login, muncul tampilan “sinkronisasi token” dan menyebabkan komputer hang.

Setelah melakukan restart dan kembali login ke internet banking BCA, nasabah mendapati uangnya telah berkurang sebesar Rp 13 juta. Menurut Jahja, BCA telah melakukan sosialisasi terhadap temuan tersebut melalui layanan Halo BCA dan juga media sosial. Jahja menyarankan untuk menelepon ke Halo BCA 500-888 jika terjadi permintaan memasukkan token berulang-ulang.

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.