Merekatkan laba lewat usaha pabrik lem

Thursday, January 14th 2016. | Peluang Usaha

Bagi masyarakat awam, lem sering dianggap sebagai barang remeh yg cukup digunakan sesekali. Kebutuhan lem untuk rumah tangga memang belum dianggap serius. Namun, ternyata, banyak sekali sektor industri yg membutuhkan lem dalam proses produksinya. Walau pembelinya tak sebanyak pembeli ritel, tapi lem untuk industri menjanjikan keuntungan yg menggiurkan.

Beberapa pemain dalam bisnis ini ialah Agustinus Witanto, pemilik Greatchemindo Satria Putramas (GSP) dan Yuliansyah, owner PT Gilang Lemindo. Baik Agus maupun Yuliansyah memproduksi lem epoxy. Lem ini terdiri dari dua komponen, yaitu resin dan hardener (pengeras). Pada umumnya, lem epoxy diaplikasikan pada kayu. Namun, lem epoxy juga dapat dimodifikasi sehingga dapat digunakan untuk merekatkan bahan besi, baja, tembaga, plastik, kayu dan keramik

Agus fokus memproduksi lem epoxy untuk digunakan pada pembuatan atau perawatan kapal kayu. Setelah riset di Jawa Timur, ia melihat peluang usaha membuat lem untuk keperluan kapal kayu.

Selain menjual lem epoxy pada pembuat kapal, dia juga menawarkan produk ini pada nelayan. “Dulu nelayan memperbaiki kerusakan kapal kayu dgn semen, padahal itu tak bagus, jadi kami edukasi agar mengubahnya jadi lem epoxy,” katanya.

Agus sempat memproduksi lem untuk keperluan alas kaki. Lantaran pembayaran yg macet, ia menghentikan produksi itu lalu beralih memproduksi lem berbasis epoxy untuk perkapalan pada 2013.

Agus menegaskan, prospek usaha ini cukup bagus. Permintaan lem di pabriknya terus meningkat. Dibandingkan produksi pada 2013, tahun lalu ia menikmati pertumbuhan lebih dari 100%. “Pada semester II 2014, peningkatan permintaan mencapai 80% dari semester sebelumnya,” ujar dia.

Lem buatan GSP dikemas di kaleng berukuran 1 kg, 2 kg, dan 25 kg. Harganya ada di kisaran Rp 80.000–Rp 140.000 per kg. Saat ini, kapasitas produksi di pabriknya mencapai 15 ton–20 ton per bulan. Margin kotor dari penjualan lem di GSP sekitar 15%.

Adapun Yuliansyah telah memproduksi lem semenjak 2002 di Tangerang, Banten. Awalnya ia cukup memproduksi lem epoxy. Namun, ia mengembangkan produknya dan sekarang ada enam jenis lem yg ia buat, misalnya Plastisol dan resin H-plast. “Lem epoxy jadi salah satu produk yg paling sering dibeli,” ujarnya.

Lantaran menyasar pasar industri, Yuliansyah mengemas lem pada pile dan drum berukuran 25 kg dan 200 kg–250 kg. Harga jualnya berkisar US$ 1–US$ 7 per kg.

Yuliansyah mengakui pertumbuhan bisnis ini menggembirakan. Ketika merintis usaha pembuatan lem pada 2002, ia cukup mengantongi keuntungan sekitar Rp 50 juta per bulan. Namun sekarang ini, omzetnya melambung sampai Rp 3 miliar saban bulan.

Margin keuntungan dari bisnis ini ada di kisaran 25%–45%. “Beda jenis lem, margin yg dihasilkan pun beda-beda,” ungkapnya. Menurut dia, kue bisnis lem epoxy tergolong kecil, tapi margin yg dijanjikan dari usaha ini bagus.

Bahan baku masih harus barang impor

Anda tertarik menjajal usaha ini? Untuk merintis usaha berskala pabrik, modal yg dikeluarkan memang tak sedikit. Ambil contoh, Agus yg merogoh kocek sebesar Rp 200 juta. Modal itu cukup untuk investasi alat dan bahan baku awal. “Untuk bangunan pabrik, saya telah punya jadi tak saya hitung investasi,” ucapnya. Nah, untuk Anda yg merintis dari nol, tentu saja harus menambah modal untuk menyewa lahan dan membangun pabrik.

Namun, Agus mengakui, pada usaha ini modal tak dapat kembali dgn cepat. Selama tiga tahun, usaha lemnya harus disubsidi dari bisnis lainnya. Baru pada tahun keempat, Agus mulai merasakan keuntungan dari bisnis ini.

Luas pabrik GSP untuk produksi yakni 500 m2. Sementara, untuk penyimpanan bahan baku, Agus punya gudang berukuran 400 m2. Di samping itu, dia punya sisa lahan 150 m2 untuk kantor sekaligus tambahan gudang.

Mesin utama yg dibutuhkan untuk bisnis ini ada dua. Yang pertama, mesin pencampur atau mixer. Mesin mixer untuk membuat lem berkapasitas besar, mulai 200 kg, 500 kg, sampai dua ton. Selain itu, motor yg digunakan harus kuat mengaduk lem yg semakin lama semakin mengeras.

Mixer dapat dibeli bekas dari pabrik lain, tapi dimodifikasi di bengkel. Harganya bermacam-macam, mulai Rp 20 juta–Rp 50 juta. Saat ini, GSP menggunakan enam buah mixer dan menyiapkan dua mixer cadangan.

Yang kedua, mesin untuk mengemas. Dulu, setelah diaduk, lem dimasukkan ke dalam drum yg disematkan keran. Untuk memasukkan lem pada kemasan, keran tinggal dibuka. Namun, sekarang telah ada mesin otomatis untuk mengemas lem. Mesin ini dapat dibikin sendiri dgn harga sekitar Rp 15 juta.

Mesin dapat dibuat di dalam negeri, beda halnya dgn bahan baku. Agus dan Yuliansyah mengatakan 80% bahan baku pembuatan lem harus diimpor dari luar negeri. Ada sebagian yg diimpor sendiri, tapi ada juga bahan yg dapat dibeli melalui importir. “Bahan baku lem epoxy asalnya dari Jerman. Makanya, harga jualnya belum dapat murah sehingga kadang nelayan mengeluhkan ini, tapi kami tak dapat lagi menekan harga,” tutur Agus. Sebelum memilih supplier, Agus menyarankan pembuat untuk membuat standardisasi formula lem sehingga dapat memilih bahan baku terbaik dari supplier terbaik pula.

Pengeluaran terbesar untuk bisnis ini memang terletak pada belanja bahan baku. Bahkan, menurut penuturan Agus, belanja bahan baku ini dapat mencapai 80% dari total biaya bulanan yg ia keluarkan. Maklum, ia membutuhkan sekitar 10 ton bahan pembuat lem tiap bulan.

Pengeluaran lainnya ialah melakukan riset untuk mengembangkan produk. Menurut Yuliansyah, ini biaya yg tergolong besar, setelah belanja bahan baku. “Karena kalau tak bikin produk baru, keuntungan tak masuk ke kantong,” ucapnya.

Setelah itu, pengeluaran yg mengikuti ialah membayar gaji karyawan dan ongkos operasional, terutama listrik. Agus menambahkan, listrik harus stabil. Jika di tengah proses produksi, listrik padam, siap-siap menghitung kerugian.

Agus pernah menanggung kerugian sebesar Rp 8 juta akibat listrik padam selama empat jam. “Sekarang PLN telah kooperatif karena selalu memberitahukan jika akan memadamkan listrik, jadi kami dapat mewaspadai,” cetusnya.

Untuk kemasan, ia menggunakan kaleng seng. Agus mengatakan, lem epoxy lebih cocok dikemas di kaleng seng dibandingkan di plastik misalnya. Pasalnya, lem ini mengandung solven. Nah, jika dikemas dgn plastik, lem membuat kemasan plastik mengerut. “Solven bersifat menyerap air dari udara bebas. Jadi kalau dimasukkan dalam plastik, lama-lama plastik akan menyusut, tapi kalau dalam seng tak demikian,” jelasnya.

Adapun proses pembuatannya cukup sulit karena melibatkan bahan kimia. Sebenarnya, semua bahan baku dimasukkan ke dalam mixer untuk diaduk sampai menghasilkan lem. Namun, proses ini berlangsung selama beberapa tahap dalam waktu yg tak sebentar.

Untuk membuat lem, setidaknya dibutuhkan waktu empat jam. “Pada tiap tahapan, ada bahan yg dimasukkan dan dihitung waktunya berapa lama, begitu seterusnya,” kata Yuliansyah. Reaksi kimianya juga banyak, mulai reaksi panas dan dingin jadi perlakuan pada bahan baku pun berbeda-beda. Pada tiap reaksi, kecepatan putar mixer harus disesuaikan.

Dus, pembuat harus memahami betul proses kimia. “Tak perlu ber pendidikan kimia, yg penting tapi harus mampu memahami proses kimia karena pembuatannya cukup sulit,” kata Agus.

Penting membangun jaringan terlebih dulu

Bahan perekat ini sangat banyak ragamnya. Bahan baku untuk membuatnya pun bermacam-macam. Nah, luasnya pilihan bahan perekat membuat Anda leluasa untuk memilih jenis lem yg mau dibuat. Namun, tentu saja pasar yg dituju harus telah ditetapkan.

Jangan memproduksi lem bila Anda belum tahu pasar yg mau disasar. Itulah peringatan yg dilontarkan Agus dan Yuliansyah. Sebelum repot-repot memikirkan produksi, hal pertama yg harus dikerjakan ialah menemukan pasar yg tepat untuk produk yg akan dijual. “Kalau pasar telah ada, baru produksi dapat dimulai,” tegas Yuliansyah.

Alasannya, bahan baku lem cukup dapat bertahan empat bulan. Jadi, menimpun bahan baku bukanlah pilihan. Agar tak merugi, pikirkan matang-matang sebelum memulai proses produksi.

Kalau mau mengikuti jejak Agus, Anda dapat belajar dulu dgn bergabung sebagai karyawan di pabrik lem. Agus pernah jadi manager selama tiga tahun di pabrik lem. Selepas keluar dari pabrik itu, ia mengatakan tak kesulitan untuk mendapatkan klien karena telah paham pasar untuk bisnis ini.

Kesulitan yg kerap ditemui ialah mengedukasi pasar. Pasalnya, sebelum membeli produk, customer harus diedukasi terlebih dulu. “Sebisa mungkin, telah banyak pengalaman dulu supaya dapat lebih cepat melakukan penjualan,” tandasnya.

Setelah menguasai pasar perkapalan di Pesisir Utara, mulai Pekalongan sampai Banyuwangi, Agus berencana merambah daerah lain. Targetnya ialah Nusa Tenggara Timur, Palu, serta Banjarmasin. “Daerah-daerah ini punya industri kapal kayu yg bagus, jadi saya rencanakan menempatkan agen penjualan di sana,” tuturnya.  

 

Siap bersaing dgn produk asing

Sebelum isu Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) muncul, lem buatan pabrik lokal telah harus bersaing ketat dgn pembuat lem dari luar negeri. Namun, masing-masing pengusaha telah punya strategi untuk menghadapi persaingan ini.

Yuliansyah, owner PT Gilang Lemindo mengatakan, inovasi produk merupakan kunci utama untuk menyaingi produk lem impor. Pasalnya, kebanyakan lem dari luar negeri merupakan jenis lem yg penggunaannya general. Sementara, pabrik lokal mampu memproduksi lem yg dimodifikasi sesuai keperluan pasar lokal. “Makanya, pabrik lokal harus rajin mengembangkan produk dan terus riset keperluan pasar,” tegasnya. Sebisa mungkin pembuat tak lagi membuat lem yg telah dibuat pabrik luar negeri. Produsen lokal harus rajin membuat varian baru agar tak lelah berperang harga.

Riset ini memang mengeluarkan biaya besar. Namun, potensi keuntungan dari lem jenis baru juga besar. “Jadi jangan ragu-ragu untuk bikin produk baru,” kata Yuliansyah.

Saat ini, persaingan bisnis untuk lem epoxy telah mulai kencang. Produsen harus pintar memodifikasinya agar dapat digunakan oleh industri yg lain. Kalau selama ini lem epoxy masih digunakan untuk industri furnitur, pembuat dapat menciptakan lem baru untuk industri otomotif misalnya.

Pendapat ini disetujui oleh Agustinus Witanto. Greatchemindo Satria Putramas (GSP) harus bersaing dgn lem merek luar negeri, terutama dari Inggris. Bagi Agus, kekurangan dari pabriknya hanyalah sertifikat LLOYD untuk pembuat produk di bidang perkapalan. “Tanpa sertifikat itu, saya masih sulit bersaing dgn merek internasional,” tukasnya.

Di sisi lain, kebanyakan pabrik lokal memproduksi lem untuk tembok serta untuk alas kaki. Padahal, merek yg beredar telah sangat banyak, baik lokal maupun impor. “Lebih baik membuat produk baru dgn target pasar yg memang khusus,” ujarnya.

Menurut dia produk lem lokal punya satu kelebihan dibandingkan dgn produk impor, yakni harga yg lebih terjangkau tapi dgn kualitas mirip produk impor. Jadi, peluang untuk membuat pabrik lem memang masih terbuka selama benar-benar dapat menjawab keperluan pasar.                                            

 

Search terms:

anak sd ngentot, cerita ngentot anak sd, jajanan unik untuk usaha, toko payet pasar baru bandung,

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.