Simak manfaat pengembalian premi produk asuransi

Wednesday, March 15th 2017. | Personal Finance

Pasar yg masih terbuka lebar memicu perusahaan asuransi di Indonesia untuk terus menempuh inovasi produk. Tentu, tujuan mereka adalah agar semakin banyak masyarakat yg tertarik membeli produk asuransi jiwa, terutama asuransi kesehatan.

Pemberlakuan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sedikit banyak memengaruhi minat orang membeli asuransi komersial. Alhasil, inovasi produk asuransi komersial melalui fitur-fitur atau marketing gimmick terus digeber oleh para pembuat.

Salah satu fitur yg belakangan kian gencar ditawarkan adalah fitur pengembalian premi dgn syarat tertentu. Misalnya, setelah kontrak asuransi berjalan dalam rentang waktu tertentu dan  tak terjadi klaim,  nasabah akan mendapatkan pengembalian premi. Fitur itu kerap dinamakan no claim bonus atau return on premium.

Fitur ini banyak ditawarkan baik oleh produk asuransi jiwa maupun kesehatan. Contohnya, Axa Hospital Plus Life. Produk besutan Axa Indonesia ini menawarkan fitur pengembalian premi 100% setelah kontrak asuransi berlangsung 12 tahun, baik terjadi klaim maupun tak selama rentang waktu itu.

Produk asuransi kesehatan yg memiliki fitur mirip adalah Cigna Care and Save yg dirilis oleh Cigna Indonesia. Pengembalian premi sebesar 50% setelah kontrak asuransi berjalan selama 3 tahun, ada atau tak klaim. Ada pula Cigna Health Protection yg mengembalikan 25% total premi apabila dalam 2 tahun tak ada klaim dari pemegang polis.

Contoh produk lain, Avrist Smart Guard, asuransi kesehatan yg menawarkan pengembalian 50% premi setelah kontrak berjalan 6 tahun sampai 9 tahun. Sedang apabila kontrak asuransi telah berjalan 10 tahun, premi akan dikembalikan 100%. Adi Purnomo Wijaya, Wakil Presiden Direktur Avrist Assurance, menjelaskan, fitur return on premium akan menguntungkan pemegang polis. “Uang pemegang polis tak hangus ketika akhir masa pertanggungan premi berakhir atau ketika tak ada klaim,” ujar dia kepada KONTAN.

Fitur ini boleh jadi dapat memikat banyak orang Indonesia yg cenderung belum akrab dgn cara kerja produk asuransi. Masih banyak kalangan masyarakat yg menilai membeli asuransi adalah tindakan mubazir karena premi biasanya tetap hangus kendati tak ada klaim selama kontrak.

Lantas, adakah dgn demikian produk asuransi berfitur seperti itu dapat dibilang produk asuransi yg menarik dilirik? Sebelum buru-buru menubruknya, ada baiknya Anda tetap menyimak saran dari para perencana keuangan.

Sesuai keperluan
Membeli asuransi sejatinya adalah mengalihkan risiko yg kita miliki ke perusahaan asuransi melalui pembayaran premi untuk mendapatkan pertanggungan tertentu. Dalam kolom arus kas, premi asuransi dimasukkan di kolom biaya. Karena terkait dgn biaya itulah, pembelian asuransi apa pun harus melalui pertimbangan yg cermat.

Para perencana keuangan mengingatkan, prinsip utama menilai layak atau tak sebuah produk asuransi untuk Anda beli adalah pastikan produk itu sesuai keperluan Anda. “Selain itu, perlu juga menimbang kesesuaian harga produk asuransi atau premi dgn kondisi keuangan kita,” kata Freddy Pieloor, perencana keuangan Moneynlove Financial Planning dan pialang asuransi.

Anggaran biaya asuransi idealnya memakan tak lebih dari 10% pendapatan tahunan Anda. Mengetahui keperluan proteksi seperti apa yg tepat juga untuk menghindarkan Anda dari jebakan fitur-fitur produk asuransi yg sebenarnya tak terlalu Anda perlukan.

Nah, berikut hal-hal yg perlu Anda ketahui lebih jauh tentang fitur pengembalian premi asuransi menurut pendapat para perencana keuangan:
Jenis proteksi
Di pasar, kebanyakan asuransi dgn fitur pengembalian premi sampai 100% adalah asuransi berjenis santunan harian atau cashplan. Berbeda dgn jenis hospital benefit, asuransi cash plan tak melihat perincian biaya yg timbul saat terjadi risiko. Perusahaan asuransi mengganti risiko sesuai hari Anda dirawat.

Misalnya, Anda membeli asuransi cash plan dgn skema Rp 1 juta per hari, maka saat Anda dirawat di rumahsakit selama 10 hari, asuransi mengganti biaya sebesar Rp 10 juta meskipun biaya rumahsakit Anda sebenarnya Rp 50 juta ataupun cukup Rp 7 juta.

Dus, asuransi jenis ini lebih tepat sebagai pengganti penghasilan yg hilang akibat Anda sakit atau kecelakaan. Perencana keuangan menilai, skema cash plan lebih cocok sebagai pelengkap proteksi kesehatan yg telah Anda miliki.

Manfaat terbatas
Tidak ada makan siang gratis. Prinsip itu yg harus selalu Anda ingat ketika meneliti sebuah tawaran produk jenis apapun. Karena kebanyakan asuransi berfitur pengembalian premi merupakan asuransi berskema santunan harian, manfaat yg diberikan pun relatif terbatas dan tak detail.

Umumnya, untuk jenis asuransi kesehatan skema cash plan dgn fitur pengembalian premi, manfaat yg diberikan meliputi santunan rawat inap, santunan apabila dirawat di intensive care unit (ICU), lalu santunan kematian. Sedang risiko lain seperti biaya kunjungan dokter, pembedahan, biaya ambulans, dan lain-lain, tak ditanggung.

Timbang inflasi
Kebanyakan fitur pengembalian premi yg ditawarkan sebuah produk asuransi jiwa atau kesehatan baru dapat Anda nikmati setelah periode tertentu. Misalnya, baru kembali setelah 12 tahun masa pertanggungan. Ada juga yg 3 tahun atau 5 tahun telah dapat dikembalikan uang preminya kendati tak sebagian saja, dan sebagainya.

Eko Endarto, perencana keuangan Finansia Consulting, menilai, apabila menyoroti syarat jangka waktu, ada risiko penurunan nilai uang yg Anda tanggung akibat faktor inflasi.
Taruh kata,  total premi yg telah Anda bayarkan untuk produk tersebut selama 10 tahun semenjak tahun 2015 adalah Rp 60 juta. Di tahun kesepuluh atau 2025 Anda mendapat pengembalian premi 100% senilai sama yaitu Rp 60 juta.

Bila mengasumsikan tingkat inflasi per tahun 10% dan tingkat kembang acuan rata-rata 6%, maka di tahun 2025 nilai Rp 60 juta itu sejatinya telah turun setara Rp 41,42 juta.
Namun, apabila Anda telah kebelet ingin membeli asuransi dgn premi pengembalian premi, Eko menyarankan agar memilih produk dgn jangka waktu pengembalian lebih cepat agar risiko penurunan nilai uang lebih kecil.

Tanpa tes kesehatan
Asuransi fitur return on premium atau non claim bonus banyak yg tak mensyaratkan pemeriksaan kesehatan saat mendaftar. Misalnya, Cigna Health Protection yg memberi bonus 25% dari premi jika tak ada klaim selama dua tahun. Beberapa produk asuransi kesehatan yg lain, terutama yg uang pertanggungannya besar, mewajibkan tes kesehatan setiap tahun.

Budi Raharjo, perencana keuangan OneShildt Financial Planning, berujar, asuransi berfitur return on premium umumnya juga tak mewajibkan tes kesehatan setiap tahun karena masa pertanggungan asuransi biasanya telah dipatok di awal. Misalnya, 5 tahun atau 10 tahun. “Oleh karena itu pula pemegang polis tak boleh telat membayar premi karena dapat mengakibatkan perlindungannya terputus di tengah jalan,” kata dia.

Ada keuntungan lain karena modelnya adalah asuransi berjangka. Selain tak perlu pembaharuan tes kesehatan, premi yg dibayarkan pun nilainya tetap selama masa kontrak tanpa melihat penambahan usia tertanggung seiring waktu.

Tarif premi dapat lebih mahal

Menurut pengamatan Risza Bambang, perencana keuangan OneShildt dan Chairman Padma Radya Aktuaria, produk asuransi dgn fitur return on premium dapat dikategorikan sebagai endowment atau asuransi dwiguna berisi proteksi dan tabungan. “Biasanya asuransi seperti ini preminya cenderung lebih mahal daripada asuransi biasa yg preminya hangus,” kata dia.
Perusahaan asuransi, ujar Risza, tentu telah melakukan hitungan cermat agar tetap dapat untung kendati premi yg telah dibayarkan pemegang polis mereka kembalikan di akhir masa kontrak.

Agar dapat membandingkan tingkat mahal atau murah sebuah produk, menurut Risza, Anda perlu membandingkan keseluruhan isi produk. “Jangan cuma melihat nilai rupiah yg diberikan dari fitur return on premium itu,” kata dia.

Anda perlu melihat lebih detail manfaat apa saja yg diberikan oleh sebuah produk, lalu kewajiban premi yg disyaratkan, persyaratan yg diterapkan untuk dapat mendapatkan return on premium, juga syarat dan ketentuan lain yg banyak dimuat dalam polis produk asuransi tersebut.

Bandingkan dgn produk lain yg tak memiliki fitur return on premium. Agar tak bingung dan salah beli produk, perencana keuangan menyarankan Anda kembali ke prinsip awal, yaitu proteksi seperti apa yg Anda butuhkan dan berapa kemampuan anggaran proteksi yg Anda miliki.

Dengan begitu, keperluan proteksi Anda dapat terpenuhi dgn tepat dan efisien.       

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.