Sukses mendulang rupiah dari kotoran sapi

Tuesday, May 29th 2018. | Peluang Usaha

Beternak sapi dan menjadi penyadap karet adalah pekerjaan rutin warga desa Simpang Empat, Padang Harapan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Sebagai peternak, setiap satu keluarga rata-rata memiliki satu ekor sampai dua ekor sapi.

Agus Patra, Ketua Kelompok Tani Tunas Jaya mengatakan, total populasi sapi di desanya lebih dari 25 ekor. Banyaknya hewan ternak membuat mereka kewalahan membersihkan kotorannya.

Maklum saja, dalam sehari total kotoran sapi dapat lebih dari 20 kilogram (kg).Selama ini, peternak cukup menfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk pohon karet yg ada di sekitar rumah mereka. “Tapi kan proses pemupukan tak setiap saat,” katanya.

Tidak habis akal, Agus Patra mencoba memanfaatkan kotoran sapi menjadi gas metana (CH4) yg bisa digunakan sebagai penganti gas elpiji. Laki-laki berkulit gelap ini mengatakan turut dalam pelatihan yg diselengarakan oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra di wilayahnya.

Untuk membuat seluruh peralatan dan mendapatkan gas metana cukup dibutuhkan waktu sekitar enam bulan. Persiapannya antara lain membuat sumur kecil yg telah di semen, alat putar, pipa, dan tandon.

Untuk membuat satu peralatan lengkap dibutuhkan modal sekitar Rp 9 juta.Agus bilang, proses pembuatannya cukup mudah. Pertama, mencampurkan 30 kg kotoran sapi basah dgn 30 liter air kemudian diaduk sampai menjadi bubur dan terurai.

Nantinya, gas yg dihasilkan akan masuk ke dalam pipa selang dan ditimbun di dalam tandon. Baru setelah itu gas siap digunakan. Karena keterbatasan pipa selang, sekarang ini gas Ch4 tersebut baru digunakan oleh oleh warga setempat yg memanfaatkannya untuk kegiatan memasak, seperti  menggoreng keripik produksi desa setempat.

Sekedar Informasi, selain menjadi penyadap karet, para warga juga berprofesi sebagai petani kentang dan mengolahnya menjadi keripik. Berkat gas CH4, kini Agus dan anggota kelompok taninya dapat meraup untung lebih besar dari mengolah keripik kentang.

Bila sebelumnya cukup meraup keuntungan sebesar Rp 4.000 per kg, kini naik menjadi Rp 7.000  per kg. Dalam sehari mereka bisa memproduksi 200 kg keripik kentang. Hasilnya mereka pasarkan ke sejumlah toko kue di wilayah Banjar dan sekitarnya.

Ke depan, Agus berencana memperluas penggunaan gas CH4 ke rumah-rumah warga lainnya. “Kami akan membuat beberapa sumur lagi agar semua warga dapat memanfaatkannya,” katanya.

Semakin banyak sumur maka semakin banyak kotoran sapi yg dapat diolah. Warga sendiri menyambut baik rencana tersebut. Mereka tak menolak menggunakan gas metana untuk proses memasak walaupun terbuat dari kotoran sapi. Agus bilang warga mau saja asalkan telah ada contohnya dan berhasil.          

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.