Bank Permata patok target lebih tinggi

Saturday, October 1st 2016. | Keuangan

JAKARTA. Bank tak patah semangat mematok sederet rencana bisnis di tahun ini, kendati pencapaian tahun lalu sedikit meleset. Coba tengok Bank Permata. Bank patungan milik Grup Astra dan Standard Chartered ini percaya diri mematok target lebih tinggi dari tahun lalu.

Bianto Surodjo, Direktur Retail Banking Bank Permata mengatakan, tahun ini pihaknya fokus memburu anggaran murah. Maklum, anggaran murah bakal membantu bank mendongkrak laba sebab dapat menghemat bank merogoh kocek untuk beban kembang.

Hingga akhir tahun nanti, Bank Permata membidik pertumbuhan anggaran pihak ketiga (DPK) sebesar 12%-15%. Angka ini lebih tinggi ketimbang perolehan tahun lalu. Di tahun 2014, Bank Permata mampu mengumpulkan DPK sebesar Rp 148 triliun, naik 11% ketimbang tahun 2013.

Bank Permata menggeber likuiditas agar leluasa menyalurkan kredit. Per Desember 2014, rasio likuiditas atawa loan to deposit (LDR) bertengger di level 89%. “Kami mencari anggaran murah lewat banyak produk, cabang dan e-channel,” ujar Bianto saat berkunjung ke redaksi KONTAN, Rabu (25/2).

Dari sisi kredit, Bank Permata optimistis dapat memacu kredit sampai tumbuh 12%-15%, lebih tinggi dari tahun lalu yg tumbuh 11%. Tapi, lebih rendah ketimbang proyeksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yg sebesar 15%-17%.

Bank Permata mengincar kredit usaha kecil menengah (UKM) dan kredit komersil (middle market). Bank berlogo tiga permata ini membidik calon debitur di segmen supply chain.

Misal, debitur yg berasal dari industri otomotif.  Sebagai anak usaha Grup Astra, Bank Permata membidik perusahaan yg masuk dalam mata rantai bisnis Astra. Mulai dari pemasok komponen mobil sampai ribuan diler kendaraan yg tersebar di seluruh Tanah Air. Skema bisnis itu juga diterapkan Bank Permata di segmen bisnis kredit komersial.

Fokus bisnis ini tak terlepas dari torehan prestasi tahun 2014. Sebelumnya, Sandeep Jain, Direktur Keuangan Bank Permata menyatakan, pertumbuhan kredit tahun 2014 didorong oleh bisnis UKM serta kredit komersial. “Juga ditopang oleh layanan trade finance dan produk-produk pinjaman lain,” ujar dia.

Di luar anggaran dan kredit, Bank Permata juga memacu pertumbuhan pendapatan komisi (fee based income). Bank Permata mengandalkan mesin pencetak fee based diantaranya berupa layanan cash management, trade finance dan bancassurance.

Tahun lalu, pundi-pundi fee based naik 35% menjadi Rp 1,70 triliun. Anak usaha baru yakni PT Astra Sedaya Finance (ASF) juga turut menjadi penyumbang pendapatan komisi Bank Permata mulai tahun lalu.

Catatan saja, laba operasional konsolidasi Bank Permata, sebelum pencadangan, sebesar Rp 2,94 triliun, meningkat 18% secara tahunan atau year on year (yoy) di tahun 2014.Laba bersih setelah pajak mencapai Rp 1,59 triliun.

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.