Satrio sukses jadi tuan di kampung sendiri

Friday, April 20th 2018. | Peluang Usaha

Sudah banyak kisah putra daerah yg berjuang untuk membesarkan daerahnya. Satrio Yudiarto adalah salah satunya. Pria yg pernah bekerja di bank internasional ini tak ingin melupakan tanah kelahirannya, Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng). Ia mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Surya Yudha untuk membantu masyarakat Jateng. Dalam tiga tahun terakhir, dia juga membangun hotel dan wahana rekreasi demi perkembangan wisata Banjarnegara.

Dibesarkan oleh orang tua yg bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) tak membuat Satrio ingin menjadi PNS. Pria yg telah berusia 67 tahun ini mengatakan jiwa wirausaha muncul di bangku sekolah. “Saya semenjak SD suka berjualan, mulai layangan, mainan. Sampai kuliah, saya selalu mencari peluang untuk berusaha,” tutur Satrio.

Namun ketika kuliah, ia menuruti orang tuanya untuk kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan dan Perbankan (Stikubank) di Semarang. Setelah tamat sebagai sarjana muda, dia melamar sejumlah perusahan dan bank nasional. Dari 30 surat lamaran yg ia kirimkan, cukup satu perusahaan yg menerima dia, yakni Bank of Tokyo yg berkantor di Jakarta.

Di bank ini, Satrio merintis karier sampai ia memangku jabatan Senior Assistant General Manager. Nah, beberapa tahun menjelang pensiun, Satrio punya rencana sendiri. Ia ingin kembali ke daerah asalnya, Banjarnegara. Tetapi, dia tak mau menganggur. “Dengan kehidupan saya di Jakarta yg dimulai dari pukul 5 pagi sampai malam, saya takut mengalami post power syndrome saat pensiun, ujarnya.

Lantas, pada 1991, ia pulang kampung ke Banjarnegara. Ia mulai merintis usaha yg masih berkaitan dgn ilmu yg ia kuasai. Pada 12 April 1992, Satrio meluncurkan BPR Surya Yudha. Pria kelahiran 6 September 1945 ini menggelontorkan modal Rp 150 juta, hasil tabungannya selama puluhan tahun menjadi pegawai bank.

Namun, saat itu ia belum meninggalkan pekerjaannya di ibukota. Dus, tiap akhir pekan, dia pulang, untuk mengawasi langsung BPR Surya Yudha.

Melihat usahanya semakin maju, Satrio memutuskan pensiun lebih dini pada tahun 2000. Keputusan ini tepat. Sekembalinya, BPR Surya Yudha berkembang pesat. Bahkan, kini, BPR Surya Yudha memiliki 24 kantor cabang dgn 48 kantor kas. Jumlah nasabahnya di Kabupaten Banjarnegara, Temanggung, Wonosobo, Purbalingga, Purwokerto, Cilacap, dan Pekalongan mencapai 75.000 nasabah.

Total aset konsolidasi dari BPR ini sekarang mencapai Rp 1,3 triliun. Satrio bilang, pertumbuhan bisnis BPR Surya Yudha tiap tahun sebesar 20%.

Rambah pariwisata

Visi Satriyo dalam merintis BPR Surya Yudha adalah menjadi tuan rumah di kampungnya sendiri. Dus, ia berjuang untuk memberdayakan masyarakat Banjarnegara dgn akses yg ia miliki. “Fokus saya adalah pelaku UMKM,” ujar dia.

Tentu, kiprah Satrio membesarkan usahanya tak bebas dari kendala. Ia menyadari semakin lama, angin persaingan kian kencang. BPR harus bersaing dgn koperasi dan bank umum serta bank asing. Ini tak melunturkan semangatnya. Satrio optimistis BPR tetap menjadi sumber pendanaan andalan pengusaha kecil-menengah.

Menurut dia, BPR Surya Yudha punya keunggulan karena semua karyawannya asli masyarakat Banjarnegara. “Karyawan BPR tak butuh waktu lama untuk menyesuaikan dgn masyarakat, bahkan lebih optimal dalam menjangkau nasabah, tandasnya.

Sejak awal, inilah yg diunggulkan Satriyo. Dulu, ia merintis BPR Surya Yudha dgn 13 orang putra daerah. Dia bilang, ketiga belas orang tersebut masih bertahan bahkan bergabung dalam jajaran direksi BPR Surya Yudha. Sekarang, BPR Surya Yudha memperkerjakan sekitar 1.000 orang.

Kiprah Satriyo ternyata tak berhenti di bidang perbankan. Dia juga giat mengembangkan sektor pariwisata di Banjarnegara. Meski dia mengatakan, melebarkan sayap di dunia pariwisata merupakan suatu kebetulan.

Lantaran karyawan BPR Surya Yudha telah sangat banyak, Satriyo mendirikan fasilitas hiburan berupa waterpark dan pusat olahraga. Seiring berjalannya waktu, tempat rekreasi yg ia beri nama Surya Yudha Park ini ramai dikunjungi pengunjung umum. “Baru tahun 2011 lalu, saya buka untuk komersial dan saya juga bangun beberapa hotel sebagai penunjang,” tambah dia.

Meski telah puluhan tahun menjadi pengusaha, Satriyo mengakui bahwa terkadang ia merasa lelah. Apalagi di usianya yg memasuki 67, energinya terkuras untuk mengawasi bisnis yg ia miliki. Akan tetapi, ia selalu merasa mendapat energi tambahan setiap kali memikirkan karyawannya.

Setiap kali melihat karyawannya menjadi pejabat lewat pelantikan resmi, ia kembali semangat. “Saya bukan pada posisi memikirkan diri sendiri tapi bagaimana menyejahterakan seribu orang karyawan saya beserta keluarganya. Kalau mereka berhasil, saya puas,” ungkapnya. Ia menantang dirinya untuk memberi hidup nyaman pada semua karyawannya.

Di sisi bisnis, ia masih punya target untuk BPR Surya Yudha. Ia menargetkan dalam lima tahun, dapat membuka 10 cabang di Jawa Tengah bagian barat. Tujuannya tetap untuk membantu sebanyak mungkin masyarakat kecil, ujar ayah dari lima orang anak ini.

Di sektor pariwisata pun, ia berencana membuka hotel baru di Purwokerto dan Dieng tahun depan. Ia melihat Dieng bakal jadi tujuan wisata internasional yg baru di masa mendatang. Satrio menambahkan, ia tak mengincar kota besar karena telah terlalu banyak pesaing. Justru ia mau mengembangkan daerah yg belum banyak dikenal orang. Dengan demikian, dampak sosial dari usahanya semakin terasa. “Kota besar telah dikuasai oleh hotel asing, jadi saya fokus di daerah saja supaya putra daerah yg jadi tuan rumah di kampung sendiri,” tutur dia.    

 

Terapkan etos budaya kerja Jepang

Pengalaman bekerja di Bank of Tokyo membuka kesempatan bagi Satrio Yudiarto untuk belajar mengenai etos kerja. Satriyo sangat mengagumi budaya kerja di perusahaan Jepang. Makanya, etos kerja perusahaan Jepang ini yg ia jadikan bekal untuk diterapkan di perusahaannya.

Menurut dia, perusahaan Jepang terkenal di seluruh dunia dgn budaya yg mengutamakan kedisiplinan, semangat kerja, dan kejujuran. “Kalau mau menjadi karyawan di perusahaan saya, syaratnya tak perlu muluk-muluk. Yang penting tiap pekerjaan dapat diselesaikan dgn sifat jujur dan loyal, “ tandas dia.

Di luar itu, Satrio juga berharap, bisnisnya dapat jadi bisnis keluarga yg tetap sesuai dgn visinya. Dari lima orang anaknya, Satriyo melibatkan dua di antaranya, yaitu Tenny Yanutriana dan Anindita Alisia. Bersama istrinya, Emilia Hayati, juga menjadi komisaris di BPR Surya Yudha.

Keluarga akan menjadi komisaris dan bertugas mengurusi manajemen. Tapi, dia juga melibatkan profesional dari luar keluarga, untuk memastikan perusahaan tetap berjalan dgn menerapkan standar yg profesional. “Saya tetap merekrut tenaga profesional sebagai anggota tim pengawas,” tutur Satriyo.

Tidak seperti bisnis lainnya, BPR ada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dus, Satriyo tak dapat sepenuhnya menyerahkan bisnisnya cukup pada pihak keluarga. Sistem yg sama ia terapkan pada usaha tempat rekreasinya. Meski keluarganya dilibatkan, ia tetap butuh tenaga profesional untuk mendukung perusahaan.

Namun di masa mendatang Satriyo berharap anak-anaknya dapat mengembangkan BPR Surya Yudha sampai ke provinsi lain. “Bagian saya Jawa Tengah. Saya biarkan anak-anak yg meneruskan ekspansi ke luar Jawa Tengah,” ujar dia.      

 

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.