UOB Indonesia yakin NPL akhir 2015 dibawah 3%

Monday, April 2nd 2018. | Keuangan

JAKARTA. Kondisi perekonomian yg tak menentu membuat beberapa bank mengalami peningkatan level non performing loan (NPL). Kondisi tersebut juga dialami Bank UOB Indonesia. Per September 2014, NPL gross dan net UOB Indonesia naik masing-masing dari 2,23% jadi 3,51% dan 1,49% jadi 2,35%.

Menurut Armand S. Arief, Presiden Direktur UOB Indonesia, peningkatan NPL yg juga dialami secara industri tersebut tak luput dari segi proses dalam jaminan dan struktur kredit. “Tapi kami yakin, tahun ini penyelesaian NPL dapat dilakukan dgn baik,” terang Armand, Selasa (24/2).

Bahkan Armand memprediksi, NPL gross UOB Indonesia dapat berada dibawah 3% sampai akhir tahun ini meskipun kondisi ekonomi dinilai belum lebih baik dibandingkan tahun 2014 lalu. Armand menjelaskan, dgn penurunan NPL gross, maka NPL net pun akan turut turun.

Untuk itu, Armand bilang, pihaknya juga tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit. “Tahun ini, kami tetap arahkan pertumbuhan kredit sesuai arahan regulator. Salah satu fokus kredit kami tahun ini adalah ritel,” jelas Armand.

Hingga September 2014, kredit UOB Indonesia mencapai Rp 55,54 triliun. Angka itu tumbuh cukup 6,35% dibandingkan akhir Desember 2013 yg mencapai Rp 52,22 triliun.

Safrullah Hadi Saleh, Direktur Finance & Corporate Services UOB Indonesia mengatakan, pertumbuhan kredit UOB Indonesia bakal berada sedikit dibawah arahan regulator. Pun begitu dgn pertumbuhan anggaran pihak ketiga (DPK). Meski begitu, Safrullah berharap, pertumbuhan DPK tetap harus lebih tinggi dari pertumbuhan kredit.

“Misalnya kredit tumbuh 9%, maka DPK harus tumbuh 10%. Intinya, kami harus menjaga level loan to deposit ratio (LDR) kami,” ucap Safrullah. Saat ini, sekitar 75% portofolio kredit UOB Indonesia mengalir ke sektor ritel dan sisanya merupakan wholesale banking.

 

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.