Kisah Andry Agus, pendiri bisnis kasur pegas Alga

Friday, June 15th 2018. | Peluang Usaha

KONSISTEN mengembangkan produk menjadi kunci sukses Andry Agus di industri spring bed. Pria kelahiran Tiongkok ini merintis usaha semenjak tahun 1976 dgn mendirikan PT Alga Jaya Raya. Kini, ia termasuk salah satu pemain utama dalam bisnis spring bed. 

Bahkan, ia termasuk salah seorang pelopor spring bed kesehatan pertama di Indonesia. Siapa menyangka kalau Andry sebenarnya sama sekali tak punya background usaha spring bed.

Sebelum sukses di industri ini, ia pertama kali mencoba peruntungan di industri tekstil. Di industri ini ia menjadi importir dgn mendatangkan produk tekstil dari Jepang.

Kiprahnya di industri ini berlangsung dari tahun 1962 sampai 1971. Begitu mundur dari industri tekstil, ia mencoba merambah industri yg sangat bertolak belakang dgn bisnis sebelumnya. Yakni, industri perfilman di tahun 1972-1975.

Saat itu, Andry memproduksi salah satu film nasional berjudul Singa Betina dari Marunda yg disutradai oleh almarhum Sofia WD.

Dengan pengalaman bisnis  itu, tentu tak pernah tebersit sedikit pun angan-angan untuk terjun ke bisnis spring bed.  Sampai akhirnya ia bertemu dgn sorang temannya di Taiwan yg memproduksi spring bed dgn kualitas baik.

Dari situ ia kepikiran untuk mencoba mengenbangkan bisnis ini di Indonesia.  Ia lalu banyak belajar pembuatan spring bed dari temannya ini.

Setelah belajar, ia mencoba membuatnya di Indonesia dgn beberapa perubahan yg disesuaikan dgn keperluan kesehatan dan postur tubuh orang Indonesia. “Saya telah mulai belajar membuat spring bed kesehatan semenjak tahun 1975,” katanya kepada KONTAN belum lama ini.

Sebelum dipasarkan, Andry mencoba sendiri tidur di atas spring bed Alga untuk membuktikan kualitasnya. Tidak cukup semalam dua malam, tapi ia juga mencoba selama seminggu supaya benar-benar terasa efeknya.

Agar lebih meyakinkan produknya, Andry juga menguji spring bed-nya ke beberapa orang rekannya. Dari awal berdiri sampai sekarang, Andry terjun langsung dalam inovasi produk sampai uji kualitas.

Setelah teruji kualitasnya, barulah ia mulai memasarkannya. Di tahun 1976, ia mulai mencoba bisnis yg dianggapnya memiliki prospek cerah ini.

Awal mula produksi, tak mudah baginya menjual spring bed khusus kesehatan ini. Ini disebabkan saat itu  masyarakat Indonesia belum mengenal kasur pegas alias spring bed,

“Ketika itu spring bed belum populer di masyarakat,” ujarnya.

Saat itu masyarakat Indonesia terbiasa memakai kasur kapuk dan busa. Kasur kapuk dan busa ini memang enak dipakai dan empuk, tapi tak baik bagi kesehatan tubuh.

Menurutnya, kasur kapuk atau busa kurang mampu menyangga tulang punggung. Akibatnya, tubuh kerap terasa sakit begitu bangtun tidur. Bahkan, hal itu menjadi salah satu faktor penyebab kebungkukan.

“Kalau orang tidur di atas busa maka tulung punggung tak lurus karena busa mengikuti posisi tubuh saat tidur. Jadi, tak menjamin untuk kesehatan.,” kata pria 79 tahun ini.

Kendati tak baik buat kesehatan, mengajak masyarakat untuk beralih menggunakan spring bed bukan perkara mudah. Pasalnya, kasur pegas seperti spring bed terasa keras saat dijadikan alas tidur. Rasanya jelas tak senyaman kasur kapuk atau foam.

Namun, ia tak menyerah. Melalui berbagai sarana dan media promosi, Andry terus melakukan sosialisasi spring bed buatannya. Pernah di tahun 1980, iklan spring bed Alga menuai kontroversi di masyarakat.

Saat itu, iklan spring bed Alga dipermasalahkan oleh masyarakat karena mereka merasa dibohongi. Dalam iklan itu ada adegan spring bed Alga yg tak hancur saat dilindas mesing giring seberat 8 ton.

Selain menarik perhatian penonton, ini juga dilakukan semata-mata untuk membuktikan kualitas spring bed Alga. Menurut dia, produk spring bed yg keras justru dapat mencegah sakit tulang punggung.

“Banyak yg tak percaya. Saat itu langsung mempersiapkan pengacara. Tapi saya bersyukur tak sampai ke meja hijau,” ungkap Andry.

Ia mengatakan, semenjak awal merintis usaha telah berambisi ingin memproduksi spring bed kesehatan yg bermanfaat bagi konsumennya. Keinginan itu juga yg membuatnya memilih fokus di usaha ini.

Sebelum Alga muncul, memang telah banyak merek spring bed luar negeri yg masuk pasar Indonesia. Namun, kata Andry, kebanyakan produk yg beredar di pasaran itu tak memenuhi kualitas tidur yg sehat untuk masyarakat.

“Dari situ saya melihat masyarakat Indonesia membutuhkan tempat yg nyaman untuk beristirahat,” jelasnya.

Kerja kerasnya tak sia-sia. Pelan-pelan ia mulai berhasil merubah pandangan masyarakat yg terbiasa memakai kasur kapuk dan busa untuk beralih menggunakan spring bed.

Sekitar tahun 1981, spring bed Alga telah mulai populer di pasaran. Saat itu, banyak masyarakat yg semula memandang sebelah mata mulai banyak mencari

Bahkan, banyak dari mereka mencari spring bed yg lebih keras lagi. Menyikapi tingginya animo masyarakat, ia terus meningkatkan kualitas produk dgn mendatangkan mesin berteknologi tinggi dari Swiss dan Amerika.

Hingga sekarang ini, produk unggulan Alga, yakni super keras masih mempimpin pasar spring bed nasional karena memang belum ada kompetitornya.

Pasang surut

Kendati kini terbilang sukses, perjalanan bisnisnya tetap mengalami pasang surut. Bisnis spring bed Alga yg mengalami masa kejayaan di era 1980–1990-an sempat terpuruk di tahun 1998.

Keterpurukan itu efek dari krisis ekonomi nasional yg sangat pelik. Selain peristiwa ekonomi, kondisi politik yg tak stabil juga mempengaruhi bisnisnya.

Saat itu, ia harus kehilangan sekitar 30% karyawannya demi mempertahankan perusahaan. “Waktu itu sunyi kondisinya. Ini berlangsung sampai tahun 2004. Di tahun 2005 kondisinya telah mulai membaik,” kata Andry.

Memasuki tahun 2009, bisnisnya kembali pulih dan menalami pertumbuhan sampai sekarang ini.   

Baginya, sukses yg diraih ini tak lepas dari dukungan istri dan keluarga. Ia bilang, dukungan karyawan yg telah bekerja bertahun-tahun dengannya ini juga memperngaruhi kesuksesannya.

Menurutnya, bisnis spring bed yg terus eksis sampai sekarang ini merupakan hasil disiplin kerja yg telah ia terapkan ke seluruh karyawan. Tidak ada perbedaan perlakuan dari Andry sebagai pimpinan perusahaan kepada seluruh karyawannya.

“Semua jabatan sama. Termasuk saya. Tidak ada perbedaan. Begitupula dgn tamu dan karyawan di pabrik. Yang penting kerja dgn baik, kalau salah tetap saya peringatkan,” kata Andry.

Untuk terus memenuhi keperluan konsumen, Andry selalu membuat inovasi baru. Ia bilang, beberapa waktu lalu banyak konsumen meminta dibuatkan spring bed yg dapat mengatasi sakit tulang punggung, tapi tetap nyaman dan empuk saat dipakai tidur.

Untuk memenuhi permintaan konsumen tersebut, ia baru saja menciptakan produk baru yg terinspirasi dari teknologi Eropa. Yaitu mini pocket spring. Ia bilang, produk ini tak mengurangi kualitas produk spring bed super keras.

Mini pocket spring atau pegas berukuran kecil ini meredam kerasnya Alga spring bed super keras, sehingga tetap nyaman saat digunakan.

Ia juga mengklaim, produk barunya ini merupakan satu-satunya di Indonesia bahkan Asia Tenggara. “Hak paten teknologi ini telah dipegang Alga,” tutur Andry.

Seluruh produk spring bed Alga ini dibuat di pabrik yg berlokasi di daerah Bogor, Jawa Barat. Sementara pemasarannya melalui distributor dan agen-agen di seluruh Indonesia.

Andry bilang, banyak pelanggannya berasal dari kota-kota besar di seluruh Indonesia, seperti Medan, Surabaya, Palembang, Bandung, Malang, Pontianak, sampai Samarinda.

Tak jarang ada juga pembeli yg sengaja memesan spring bed Alga untuk dibawa ke luar negeri guna dipakai sendiri. Selain melalui distributor dan keagenan, konsumen juga dapat membeli langsung di showroom Alga yg lokasinya tak jauh dari stasiun Jakarta Kota.

Di sana, pembeli bisa melihat langsung contoh dari berbagai pilihan spring bed merek Alga. Tidak sampai sini saja, nantinya Andry juga akan terus melahirkan spring bed dgn inovasi baru demi kesehatan masyarakat Indonesia.

Seluruh produk spring bed Alga terbuat dari bahan-bahan berkualitas, seperti polyester sisal, cotton sheet, conwed netting, dan pegas berkualitas tinggi dgn ketebalan sampai 2,5 milimeter (mm) yg bisa menopang tulang punggung dgn sempurna. Susunan dalam spring bed Alga tak menggunakan busa.

Selain pasar dalam negeri, ia juga berencana mengekspor spring bed Alga ke berbagai negara. Saat ini, rencana tersebut masih tahap penjajakan.

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.