Krisis Eropa memutus tali bisnis layangan (3)

Tuesday, March 20th 2018. | Peluang Usaha

Tahun baru China alias Imlek yg baru saja lewat menjadi salah satu momen yg ditunggu para perajin layangan di Desa Lodtunduh, Ubud, Bali. Sebab, pada momen tersebut biasanya penjualan layangan mengalami peningkatan. Karena, banyak turis Tionghoa berlibur ke Bali dan membeli layangan naga merah untuk merayakan tahun baru

Namun T Ketut Yut Dinastra, perajin layangan di tempat ini mengatakan, tahun ini relatif lebih sunyi pembeli menjelang Imlek. “Masih banyak yg berlibur ke Bali tapi tahun ini mereka lebih banyak cukup jalan-jalan saja,” kata Ketut.

Meski begitu, para perajin layangan di sana mengatakan tak terlalu terpengaruh sebab mereka telah memiliki pelanggan tetap masing-masing. Para pelanggan umumnya berasal dari luar negeri. Mereka membeli layang-layang dalam jumlah banyak untuk kemudian di jual kembali.

Meski begitu, sekitar 10 pedagang layangan di Lodtunduh ini tetap saling bersaing untuk menggaet para pembeli eceran maupun pelanggan baru. Berbagai cara mereka lakukan demi menarik perhatian para pelancong yg datang dari berbagai daerah di dalam negeri sampai luar negeri.

Misalnya, Putu Suartika. Usaha layang-layang yg dia namakan Gowinda ini menawarkan bermacam-macam jenis layangan yg tak bisa ditemukan di tempat lain, seperti layang-layang berbentuk gajah dan dinosaurus.

Putu sering membuat inovasi baru dgn membuat sampel terlebih dahulu sebanyak satu atau dua buah layangan untuk dipajang di toko. “Saya juga buat dalam model masih gambar. Jadi pembeli dapat memilih dari banyak pilihan yg saya tawarkan. Kadang ada juga yg pesan layangan dgn membawa gamba sendiri,” kata Putu.

Berbeda halnya dgn Made Mawa. Pria yg telah menjual layang-layang selama lebih dari empat tahun ini sengaja memberikan garansi pada produk jualannya. Garansi berlaku jika layang-layang tak bisa diterbangkan.  “Bisa dikembalikan nanti akan kami ganti dgn yg baru,” ujar Made.

Namun, sejauh ini, lanjut Made, belum ada pembeli yg mengembalikan layangan yg telah dibeli sebab dia selalu menjaga kualitas layangan buatannya. Selain itu, agar penjualannya terus meningkat, Made juga bekerjasama dgn para pemandu wisata atau agen wisata di sekitar Bali untuk merekomendasikan kios Made sebagai salah satu destinasi kunjungan.

Namun, krisis ekonomi yg melanda negara-negara di Eropa maupun Amerika dalam beberapa tahun terakhir, membuat pelancong dari luar negeri sedikit berkurang. Ini membuat penjualan layangan di sentra ini pun menurun dalam lima tahun terakhir. “Pelanggan saya kebanyakan dari Prancis dan Spanyol. Sekarang Eropa lagi krisis ekonomi, jadi saya cukup mengandalkan turis Australia yg masih banyak berlibur ke Bali,” ujar Made.

Pada musim ramai sebelum  krisis ekonomi global berlangsung beberapa tahun belakangan ini, biasanya Made dapat menjual sekitar 28 unit sampai dgn 35 unit layangan per hari. Sementara, sekarang ini, rata-rata penjualan cukup sekitar lima unit layangan per hari.       n

(Selesai)

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.