Pilih-pilih layangan raksasa di Bali (1)

Wednesday, November 4th 2015. | Peluang Usaha

Layangan berukuran besar berwarna-warni tergantung di dinding sejumlah kios penjualan layang-layang di Desa Lodtunduh, Ubud, Bali. Warnanya yg semarak serta bentuknya yg beraneka ragam memanjakan mata pengunjung yg melihat. Sebagian layang-layang raksasa juga terlihat tergeletak di lantai menunggu proses penyelesaian sebelum siap di jual di depan kios.

Pemandangan seperti ini lumrah terlihat di wilayah yg telah menjadi sentra penjualan layang-layang raksasa di Bali semenjak 15 tahun silam tersebut. Sebelumnya, wilayah Sanur yg menjadi pusat pembuatan dan penjualan layangan raksasa yg kerap digunakan dalam festival layang-layang di pulau Dewata. Namun, seiring perkembangan properti di sana, para perajin dan penjual layang-layang beralih profesi dgn bekerja di hotel-hotel.

Perlahan, Lodtunduh kemudian menjadi pusat produksi dan penjualan layangan sampai kini. Made Mawa, salah satu perajin layang-layang di sentra ini mengatakan, penjual layang-layang dari Kuta dan Ubud umumnya kini mengambil barang dari tempat ini. Lodtunduh menjadi salah satu desa di Kecamatan Ubud yg menjadi sentra produksi dan penjualan layang-layang.    

Tidak cukup para penjual layang-layang, di tempat ini juga terdapat sejumlah kios lukisan serta kerajianan tangan lainnya. Ukuran kios di sini berkisar 1,2 meter (m) x 1 m. Terlihat tak banyak pengunjung yg datang ketika KONTAN menyambangi tempat ini.

Made bilang, ada sekitar 10 perajin yg menjajakan berbagai macam jenis layangan di sepanjang pinggir jalan Desa Lodtunduh. Umumnya mereka menjual layangan dgn aneka model satwa, seperti burung, naga, kupu-kupu, dan masih banyak lagi.

Walaupun jenis layangan yg di jual di setiap kios hampir sama, tapi menurut Made tetap saja terdapat perbedaan model maupun jenis yg di jual setiap perajin. Made membuat sekitar tujuh model layangan seperti kupu-kupu, naga, katak, dan burung hantu.

Sementara Putu Suartika, perajin layangan lainnya membuat layangan berbentuk dinosaurus, babi, dan ular kobra. Adapun, T Ketut Yut Dinastra, tak cukup menjual layangan jenis hewan, tapi juga layangan dgn model kapal.

Harga jual layangan di sana berkisar Rp 40.000-Rp 400.000 per unit, sesuai dgn ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan. Made bilang, ukuran layangan terkecil sekitar 1,2 m dan terbesar dapat mencapai 3 m.

Melalui usaha pembuatan layangan ini, Made dapat meraup keuntungan sekitar Rp 6 juta per bulan. Namun, jika telah memasuki waktu liburan di pertengahan tahun, keuntungan penjualan dapat bertambah dua kali lipat. “Kalau telah masuk bulan Juni sampai Agustus, keuntungan dapat mencapai Rp 3 juta dalam seminggu,” ungkap Made.

Peningkatan keuntungan seiring dgn kenaikan penjualan sampai lima kali lipat. Made bilang, musim liburan dapat menjual 500 layangan dalam sebulan. Sementara di hari biasa cukup sekitar 100 layangan. Putu pun merasakan hal serupa. Ketika musim liburan tiba, omzetnya yg sekitar Rp 3 juta per bulan dapat naik sampai lima kali lipat.    n

(Bersambung)

Search terms:

cara membuat layangan ular, layangan ular, cara membuat layang layang ular, layang layang ular, cara bikin layangan ular, yhs-1, Cara buat layangan ular, cara membuat layang layang ular kobra, cara buat layang layang ular, cara membuat layang2 ular,

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.