Program 1.000 aktuaris sulit tercapai

Monday, March 5th 2018. | Keuangan

JAKARTA. Jasa Keuangan (OJK) dan pelaku industri perasuransian sepertinya harus menelan pil pahit. Program mencetak 1.000 aktuaria pada lima tahun mendatang agaknya sulit tercapai. Lihat saja, memasuki tahun kedua semenjak program ini dicanangkan, baru sekitar 320 – 330 aktuaria yg ada. Itu pun, belum seluruhnya mengambil ujian sebagai aktuaria.

Yusman, Direktur Pengaturan, Penelitian dan Pengembangan Industri Keuangan Non Bank OJK mengatakan, separuh dari angka tersebut di atas masih berstatus sebagai ajun aktuaria atau setingkat dibawah aktuaris. Yang membedakan keduanya adalah jumlah mata ujian yg ditempuh. 

“Ajun aktuaria harus menyelesaikan tujuh mata ujian, sementara aktuaria harus menempuh 10 mata ujian. Umumnya, 10 mata ujian itu dapat ditempuh dalam waktu 5 – 7 tahun. Memang, tak mudah, makanya kami membuat program 1.000 aktuaria dan melakukan percepatan,” ujarnya, akhir pekan.

Percepatan yg dimaksud adalah kerja sama OJK, pelaku industri perasuransian, asosiasi terkait dan Persatuan Aktuaria Indonesia (PAI) dgn lima universitas negeri. Mahasiswa/i yg belajar ilmu matematika dan lulus dgn nilai rata-rata S akan disetarakan dgn kelulusan 3 – 4 mata ujian aktuaria. 

Universitas itu adalah Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Tidak cukup di kampus-kampus ternama itu saja, bahkan OJK juga menggelar pemusatan kuliah di Jakarta kerja sama dgn Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti dan PSM Consulting.

“Kami memperkirakan, tahun 2017 nanti, ada lah tambahan 100 aktuaria atau 500 aktuaria pada 5 – 6 tahun mendatang. Harapan kami tetap program 1.000 aktuaria ini tercapai. Toh, kami melakukan percepatan dan mengimbau, perusahaan asuransi kerugian utamanya, untuk memiliki minimal satu aktuaria di tahun ini,” terang Yusman.

Sekadar informasi, berdasarkan catatan OJK, hampir seluruh perusahaan asuransi jiwa telah memiliki aktuaria. Namun, tak demikian halnya di industri asuransi umum. Jumlah aktuaria di industri asuransi kerugian malah belum sampai 10 orang. 

Sebelumnya, Budi Tampubolon, mewakili PAI sempat menyebutkan, persoalan utama yg dihadapi dalam melahirkan aktuaria baru adalah calon aktuaria yg sedang dalam proses belajar belum tentu segera mengambil mata ujian.

Selain itu, ia menambahkan, banyak aktuaria yg berdedikasi di luar bidang pengelolaan risiko. Ada juga sebagian yg pensiun. PAI mencatat, tahun lalu, terdapat 178 aktuaria (tak termasuk ajun). Namun, kurang dari 10 aktuaris yg menekuni bidang pengelolaan risiko.

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.