Mengamankan rencana saat dollar AS kian mahal

Sunday, April 29th 2018. | Personal Finance

Keperkasaan dollar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun lalu berlanjut sampai kalender berganti menjadi tahun 2015. Tengok saja, indeks dollar AS, yg mengukur bobot the greenback versus mata uang utama dunia, terus melejit tinggi. Sampai Rabu (7/1), indeks dollar di pasar spot AS menembus posisi 91,82. Level itu merupakan yg tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Kebanyakan valuta di dunia terkapar melawan dollar AS. Tak terkecuali, mata uang Garuda, yaitu rupiah. Sepanjang 2013 sampai 2014 tutup buku, nilai tukar rupiah versus the greenback menurut  Bank Indonesia (BI) melemah hampir 28%. Tekanan terhadap rupiah semakin kuat jelang akhir tahun lalu, di mana nilai tukar rupiah nyaris menembus Rp 13.000 per dollar AS.

Tahun 2015, dominasi dollar AS diperkirakan masih tetap kuat menekan rupiah. Rencana kenaikan kembang The Federal Reserves, bank sentral AS, yg telah menjadi spekulasi pasar semenjak tahun lalu akan tetap menjadi pendulum yg mengayun kekuatan otot the greenback melawan valuta lain di dunia, termasuk rupiah.

Di sisi lain, kondisi makroekonomi domestik juga masih rentan. Neraca berjalan masih defisit, pengetatan moneter kian memperlambat laju ekonomi, komitmen pemerintah baru menggenjot pembangunan infrastruktur masih menjadi pertanyaan. Alhasil, otot rupiah tahun ini sulit diharapkan menguat kembali seperti kisaran awal 2013 silam.

Banyak analis memprediksi, kisaran nilai tukar rupiah akan bergerak antara Rp 12.000–Rp 12.700 per dollar AS. Dalam perubahan Anggaran dan Belanja Negara  (APBN-P), pemerintah memakai anggapan kurs dollar AS senilai Rp 12.200. Dengan kata lain, rupiah sulit untuk kembali ke kisaran Rp 11.000, apalagi Rp 9.000, seperti beberapa tahun lalu.

Bagi Anda yg memiliki simpanan anggaran atau penghasilan dalam dollar AS, kejatuhan nilai tukar rupiah dapat jadi menjadi berkah besar. Sebaliknya, bagi Anda yg memiliki keperluan anggaran dalam dollar AS, harga the greenback yg makin mahal jelas bikin kepala pusing. Tanpa langkah antisipasi yg jelas, keperluan dollar AS Anda berisiko tak terpenuhi dgn semestinya. Misalnya, untuk biaya sekolah anak di luar negeri, biaya naik haji atau ziarah rohani ke mancanegara, biaya liburan ke negeri orang, dan lain sebagainya.

Para perencana keuangan menilai, mempersiapkan keperluan anggaran dalam dollar AS sejatinya tak terlalu berbeda dgn keperluan dalam rupiah. Anda perlu menghitung berbagai variabel yg memengaruhi target. Misalnya, anggapan inflasi, target besar anggaran, target waktu pemakaian anggaran, jangka waktu investasi yg tersisa, juga anggapan imbal hasil investasi anggaran di instrumen pilihan.

Horizon investasi
Nah, hal yg membedakan antara menyiapkan keperluan anggaran dalam rupiah dgn dollar AS, menurut perencana keuangan TGRM Financial Services Taufik Gumulya, adalah, Anda harus juga memperhatikan perkembangan makroekonomi Negeri Uwak Sam sebagai empunya mata uang.

Beberapa isu yg memengaruhi pergerakan dollar AS, ujar Taufik, antara lain data pengangguran AS, tingkat kembang dan inflasi, dan harga minyak. Di sisi lain, karena yg dilihat kelak adalah nilai tukar dollar AS versus rupiah, memperhatikan perkembangan makroekonomi domestik juga sama penting ketika menyiapkan keperluan dollar AS.

Upaya memahami tren USD/IDR mau tak mau harus Anda lakukan agar strategi pemenuhan keperluan anggaran valas dapat berjalan lancar.

Taufik memberikan contoh, dari data yg dia miliki, selain melemah sepanjang 2014, nilai tukar rupiah versus dollar AS pada tahun 2013 telah terde-presiasi sekitar 24,65%. Apabila ditarik lebih panjang, pelemahannya telah terjadi semenjak 2011 (lihat grafik). “Itu berarti bila kita butuh dollar AS kurang dari 3 tahun lagi, portofolio investasi yg ada sekarang lebih baik  kita pindah ke dollar AS,” jelas Taufik.

Namun, bagaimana jika kita tak cukup punya waktu dan energi memperhatikan tren dollar AS? Budi Raharjo, perencana keuangan OneShildt Financial Planning, berpendapat, dalam ketidakpahaman kita melihat fluktuasi nilai dollar AS, lebih baik mengoptimalkan investasi dgn strategi dollar cost averaging (DCA).

DCA adalah strategi berinvestasi rutin tanpa memperhatikan fluktuasi pasar dgn tujuan dapat mendapatkan harga rata-rata pembelian yg rendah. “Cara itu juga dapat menghindarkan kita dari kepanikan menghadapi dinamika pasar,” kata dia.

Budi juga menyarankan, untuk tujuan keuangan berupa anggaran dalam dollar AS, lebih baik pengumpulannya juga langsung dalam dollar AS.  “Agar  kita terhindar dari risiko perubahan nilai tukar di masa datang ketika anggaran itu kita butuhkan,” jelas dia.

Adapun, Taufik menilai, pilihan jenis instrumen akan sangat bergantung pada horizon investasi. Untuk tujuan keuangan dalam dollar AS di atas 5 tahun, Taufik menyarankan memakai reksadana saham rupiah.

Perencana keuangan Tatadana Consulting Diana Sandjaja menyarankan hal serupa. “Pasalnya, return reksadana saham dalam rupiah masih lebih tinggi ketimbang inflasi dollar AS,” kata dia.

Reksadana saham dalam rupiah mampu mencetak return setahun sampai kisaran 40%, pada tahun 2014. Sedangkan, imbal hasil equity mutual fund berdenominasi dollar AS masih di bawah 20%. Di sisi lain, inflasi atau kenaikan nilai kurs dollar AS dalam rupiah tahun lalu sekitar 2%.

Nah, apa saja langkah-langkah lebih jelas yg harus kita tempuh dalam menyiapkan keperluan anggaran dalam dollar AS? Mari menyimak saran para perencana keuangan berikut ini:
 

Buat rencana
Perencanaan keperluan anggaran dalam dollar AS sama saja dgn rupiah. Anda harus memastikan besar keperluan anggaran, kapan pemakaiannya, dan pilihan instrumen untuk mewujudkan target anggaran tersebut. Ambil contoh, keperluan anggaran liburan ke luar negeri 5 tahun lagi sebanyak US$ 4.000.

Kebutuhan anggaran itu dapat Anda dapatkan melalui investasi di produk reksadana campuran berbasis dollar AS dgn imbal hasil 15% per tahun sebanyak US$ 45 per bulan, memakai strategi dollar cost averaging.

Bisa juga dgn metode lumpsump atau berinvestasi sekaligus atau di waktu-waktu tertentu memanfaatkan momentum pasar, senilai US$ 516 per tahun selama 5 tahun.
 

Pilihan produk
Apabila target pemakaian anggaran masih di bawah 3 tahun, Taufik menyarankan reksadana dollar AS berjenis fixed income atau terproteksi. Sedang untuk rencana keuangan jangka menengah antara 3 tahun sampai 5 tahun, pilihlah reksadana dollar AS berjenis balanced fund. “Kalau untuk jangka panjang, pakai reksadana saham berbasis rupiah saja,” imbuh Taufik.

Kekurangan dari memakai reksadana berbasis dollar AS adalah pilihannya relatif sedikit di pasar domestik sekarang ini. Menurut catatan Taufik, sekarang ini baru ada 36 reksadana berbasis dollar AS. Sebanyak 18 di antaranya berjenis fixed income fund, lalu 11 reksadana terproteksi, 4 reksadana campuran, dan 3 reksadana saham.

Sedangkan, deposito dollar AS di perbankan cukup menawarkan kembang rata-rata di bawah 2%. Di beberapa bank, masih ada yg menawarkan kembang sampai 2,75% untuk tenor pendek.

Adapun, menaruh langsung di obligasi dollar AS, modalnya tak sedikit dan kebanyakan menyasar investor berduit tebal alias high networth individuals alih-alih ritel. Begitu juga bila memilih saham dalam dollar AS  (offshore) sebagai kendaraan investasi. Kalau Anda tak memiliki bekal pengetahuan yg cukup tentang pasar mancanegara dan waktu yg memadai untuk bertransaksi saham di pasar offshore, pilihan ini akan lebih berisiko.

Maka itu, para perencana keuangan cenderung merekomendasikan reksadana domestik sebagai pilihan. Walau begitu, Anda tetap harus cermat memilih reksadana berbasis dollar AS.

Memilih reksadana dollar AS di mana underlying asset-nya didominasi aset dollar AS dapat meminimalisasi risiko fluktuasi USD/IDR. Kalaupun memilih reksadana saham, pastikan saham rupiah yg menjadi aset dasar mayoritas memiliki kinerja ciamik agar dapat mengerek return sekaligus mengompensasi risiko nilai tukar.
 

Waktu konversi
Perencana keuangan menyarankan, untuk menekan risiko nilai tukar, Anda perlu memberi jeda antara waktu pengumpulan anggaran dgn target waktu pemakaian anggaran. Ini terutama ketika Anda memilih membiakkan anggaran untuk keperluan dollar AS dalam instrumen rupiah.

Contoh, keperluan anggaran sekolah anak Anda di luar negeri sekitar US$ 50.000, 10 tahun lagi. Memakai anggapan kurs dollar AS setara Rp 12.600, maka keperluan anggaran sekolah anak ini mencapai Rp 625 juta. Bila membiakkan anggaran di reksadana saham rupiah dgn anggapan imbal hasil 25% per tahun, Anda perlu menyisihkan Rp 1,54 juta per bulan selama 9 tahun. Jeda waktu setahun sebelum target penggunaan penting dilakukan agar risiko fluktuasi kurs dapat lebih terkendali. “Kita jadi lebih leluasa menentukan waktu penukaran uang,” imbuh Diana.

Ketika anggaran terkumpul, Anda dapat langsung mengamankannya di deposito dollar AS. Sebagai catatan, pemakaian anggapan nilai tukar juga perlu menimbang histori USD/IDR. Akan lebih baik lagi jika memakai skenario konservatif. Misalnya, prediksi para ekonom, kurs USD/IDR 10 tahun mendatang sekitar Rp 10.000 per dollar AS. Untuk hitungan lebih aman, pakailah anggapan kurs lebih mahal dari angka tersebut. Alhasil, kelak bila anggapan para ahli tepat, Anda punya keuntungan dari konversi valas. Jadi, Anda dapat leluasa memanfaatkannya sebagai tambahan anggaran.

Untuk anggapan, Anda juga dapat memakai data historis. Sebagai gambaran, berdasar data Bloomberg, kurs USD/IDR rata-rata 9.814 dalam 10 tahun terakhir, sedangkan 7 tahun ini. sekitar 9.995. Lalu, selama 5 tahun belakangan, nilainya 9.991 dan 3 tahun ini, 10.758.

Dengan perencanaan matang, fluktuasi dollar AS bukan lagi momok yg perlu ditakuti.

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.