Butuh peralatan sederhana buat penangkaran (2)

Monday, January 22nd 2018. | Peluang Usaha

Ulat jerman termasuk salah satu pakan favorit burung kicau. Permintaan yg tinggi membuat budidaya ulat ini semakin menjanjikan. Menariknya, pembiakan ulat ini juga relatif gampang.

Susanti, peternak ulat jerman asal Medan, Sumatera Utara bilang, proses pembiakan ulat jerman bisa dilakukan dgn indukan. Untuk medianya dapat memakai kotak kayu. Langkah pertama masukkan indukan ke dalam kotak. Indukan yg telah berumur satu bulan telah siap bertelur. “Setelah bertelur indukan akan mati,” jelasnya pada KONTAN.

Masa perubahan telur menjadi larva biasanya mencapai dua minggu. Usia larva menjadi dewasa atau siap panen membutuhkan waktu dua sampai tiga bulan. Saat itu, baiknya larva diberikan pakan dua kali sehari berupa kulit semangka dan gandum.

Agar terhindar dari hama, seminggu sekali kandang harus dibersihkan dan dijemur di bawah sinar Matahari. Susanti mengingatkan, indukan dan larva harus ditempatkan di dalam suhu kamar sehingga tetap kering.

Peternak lainnya, Rakhmat Ramadhan, asal Bogor mengakui, penangkaran ulat jerman tak sulit. Bukan cukup prosesnya, alat-alat yg diperlukan buat penangkaran juga tergolong sederhana. Peralatan yg dibutuhkan berupa rak, baki, botol bekas yakult, dan bibit sebanyak 30 kilogram (kg). Bibit sebanyak itu dapat menghasilkan 100 kg ulat jerman per bulannya.

Menurut Rakhmat, pemilihan induk harus selektif. Yakni, tak lebih dari 2 kg agar ukuran ulat yg menjadi kepompong dapat besar. “Nantinya ulat-ulat itu akan menjadi kepompong sekitar tujuh sampai sepuluh hari,” tutur Rakhmat.

Setelah menjadi kepompong, dilakukan proses pengambilan kepompong selama tiga hari sekali. Proses pengambilan harus hati-hati agar kepompong tak lecet atau cacat. Bila lecet, kepompong dapat mati karena membusuk.

Kepompong yg diambil juga tak sembarangan. Yakni, kepompong berwarna putih kecoklatan. Nantinya, kepompong yg telah dipilih diletakkan di dalam kotak yg diberi alas koran. Di atas alas koran itu, kepompong disebar sedemikian rupa agar tak bertumpuk di satu tempat. Setelah itu kotak ditutup rapat dgn kertas koran.

Biasanya waktu yg dibutuhkan kepompong berubah menjadi kumbang sekitar 10 hari. “Setelah menjadi kumbang, perhatikan warna sayapnya. Jika telah hitam mengkilat baru diambil,” jelas Rakhmat.

Kumbang masih belum dapat diambil jika warnanya masih kecoklatan, sehingga harus menunggu sampai warna sayapnya hitam. Itu adalah pertanda bahwa kumbang telah siap bertelur. Kumbang yg telah siap bertelur ditaruh di kotak baru atau peti yg dialasi dgn kapas, jumlahnya dapat 250 gram per kotak.

Biarkan pembibitan ini selama tujuh hari. Setelah itu, setiap kapas yg ada telurnya ditaruh di kotak terpisah. “Telur mulai menetas setelah usia 30 hari, setelah itu baru dipisahkan dari kapasnya,” ujarnya.   

(Selesai)

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.