Jangan sekadar investasi tapi lupa evaluasi

Saturday, August 20th 2016. | Personal Finance

JAKARTA. Januari 2015 baru berjalan beberapa pekan. Meneruskan tradisi tahunan, selain  menyusun resolusi tahun baru, satu agenda yg juga perlu dilakuan adalah mengevaluasi target-target yg telah dicanangkan di waktu lalu.

Salah satu yg terpenting adalah menggelar evaluasi tujuan keuangan yg telah kita canangkan. Maklum, tujuan keuangan menyangkut nasib masa depan keuangan keluarga. Idealnya, evaluasi dilakukan sebelum tahun berganti. Namun, lebih baik terlambat daripada tak sama sekali, bukan? Bila sekarang ini Anda belum melakukan, mumpung hawa tahun baru masih hangat, saatnya kini menyisihkan waktu menengok perkembangan hasil investasi. “Evaluasi penting kita lakukan untuk mengetahui telah sejauh mana langkah kita dalam mewujudkan sebuah rencana,” ujar Sari Insaniwati, perencana keuangan MRE Financial & Business Advisory.

Dengan langkah evaluasi, kita dapat melihat apakah ada strategi yg perlu diperbaiki bahkan mungkin diubah. Taufik Gumulya, perencana keuangan TGRM Financial Services, berujar, investor wajib memonitor kinerja produk investasi yg dia miliki secara berkala. Untuk target anggaran di bawah setahun, monitoring wajib dilakukan setiap bulan. Sedang untuk target anggaran kurang dari 3 tahun, minimal harus dimonitor setiap 6 bulan.

Adapun, target anggaran di atas 3 tahun, setidaknya evaluasi kinerja dilakukan tahun sekali. “Itu bila kondisi ekonomi stabil, tak ada perubahan fundamental,” kata dia. Bila kondisi tak stabil, frekuensi monitoring perlu ditingkatkan agar dapat lebih sigap memutuskan strategi terbaik.

Evaluasi lengkap
Nah, sebelum beranjak meneliti satu per satu kinerja investasi, para perencana keuangan menyarankan agar Anda terlebih dulu mengevaluasi kondisi kesehatan kocek menyeluruh.

Pasalnya, sebuah tujuan keuangan cukup mungkin  tercapai dalam kondisi kocek yg sehat. Contoh kecil, Anda tak disarankan tetap berkeras berinvestasi apabila tak memiliki anggaran darurat sama sekali atau memiliki beban utang melampaui batas maksimal.

Maka itu, penilaian kondisi keuangan menyeluruh harus Anda tempuh dahulu. Aakar Abyasa Fidzuno, Senior Financial Executor dan perencana keuangan Zeus Consulting, berujar, ada beberapa hal yg dapat Anda lakukan untuk itu.

Pertama, perbarui kondisi networth atau kekayaan bersih dan neraca keuangan ke posisi terbaru. Anda perlu memperbarui data kekayaan terkini mulai dari aset likuid, aset investasi, aset guna, juga daftar kewajiban alias utang untuk mengetahui besar kekayaan bersih. Kedua, lakukan pengecekan ulang saldo-saldo di rekening investasi, cek ulang status gaji dan bonus atau penghasilan di luar pendapatan rutin. Ketiga, teliti ulang pengeluaran dalam 3 bulan terakhir. Kondisi arus kas apakah surplus atau defisit serta apa pemicunya.

Dari pengecekan itu, dapat terlihat sejauh mana tingkat kesehatan kocek Anda. Beberapa rasio yg biasa dipakai dalam financial check-up antara lain, rasio likuiditas yg mengukur ketersediaan anggaran darurat. Jumlah ideal untuk pasangan menikah tanpa  anak adalah sebesar 6 kali pengeluaran bulanan. Lalu, rasio tabungan, untuk melihat kemampuan penyisihan pendapatan untuk ditabung. Angkanya didapatkan dari nilai surplus bulanan dibagi pendapatan bulanan. Angka ideal, minimal 10%.

Ada pula rasio cicilan utang, menunjukkan porsi pendapatan yg menjadi cicilan utang. Angka ideal adalah di bawah 35% pendapatan bulanan. Kemudian, rasio aset investasi untuk mengukur porsi aset investasi terhadap kekayaan bersih. Semakin besar angkanya, akan semakin baik.

Kemudian, rasio solvabilitas untuk mengukur nilai kekayaan sesungguhnya terhadap total aset yg Anda miliki. Minimal nilainya 35% dari total aset.

Nah, setelah mengetahui kondisi kesehatan kocek menyeluruh, Anda dapat menyimpulkan bagaimana kualitas kesehatan kocek Anda. Kalau benar sehat, kini saatnya mengevaluasi kinerja produk investasi di setiap tujuan keuangan. Apa saja langkahnya? Berikut saran dan tip dari perencana keuangan:

Bandingkan dulu
Daftarlah seluruh rencana keuangan Anda dan evaluasi setiap produk investasi yg Anda gunakan dan cek saldo investasinya untuk mengetahui pertumbuhan return setahun terakhir. “Bandingkan return-nya dgn produk sejenis di pasar, apakah sebanding atau sebaliknya?” ujar Aakar.
Anda dapat mendapatkan informasi perbandingan antar produk itu di situs www.kontan.co.id atau Infovesta dan Bloomberg. Selain membandingkan dgn produk sejenis, perlu juga mengukur dgn benchmark. Misalnya, bila produk berbasis saham, maka acuannya adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Yang juga penting adalah memeriksa apakah capaian return telah sesuai dgn target yg Anda asumsikan dalam hitungan awal. Misalkan, untuk target anggaran sekolah anak senilai Rp 120 juta, Anda mengasumsikan dapat tercapai dalam 7 tahun melalui investasi rutin per bulan Rp 526.429 di produk yg Anda asumsikan memberi imbal hasil 25% per tahun.

Bila produk investasinya adalah reksadana, Anda cukup menghitung nilai aktiva bersih (NAB) terakhir dikurangi NAB pembelian, lalu bagi angkanya dgn NAB pembelian dikalikan 100%.

Buat keputusan
Lantas, bagaimana bila anggapan hitungan awal dalam tujuan keuangan tak tercapai? Prita Ghozie, perencana keuangan dan CEO ZAP Finance, menyarankan, apabila rata-rata return investasi di bawah benchmark, langkah switching atau mengalihkan investasi ke keranjang lain dapat Anda tempuh. “Tapi, jika return pasar memang di bawah target kita, teruskan saja,” kata dia.

Karena, itu berarti kondisi pasar memang tengah tak kondusif. Taufik menambahkan, jika switching, jangan malah beralih ke produk yg lebih berisiko. Pindahkan ke produk berpotensi return lebih baik dgn risiko sama atau lebih kecil. Misal, produknya adalah reksadana saham untuk target anggaran jangka panjang. Anda dapat memindahkan ke produk reksadana saham dgn realisasi kinerja di atas anggapan return.

Alternatif lain apabila kinerja investasi masih di bawah target, menurut Aakar, adalah mendiamkan dan menambah investasi di instrumen lain sebagai langkah diversifikasi risiko.

Strategi investasi
Kerapkali, hasil investasi kurang optimal bukan melulu karena faktor pasar. Bisa jadi hasilnya mengecewakan akibat pemodal kurang disiplin, ketersediaan anggaran investasi kurang, atau karena strategi investasi yg dipilih kurang tepat.

Salah satu strategi yg umum dijalankan, dollar cost averaging (DCA) atau rutin berinvestasi di waktu tertentu dgn jumlah anggaran sama. Strategi ini cocok bagi Anda yg berprofil pendapatan rutin.

Lalu, lumpsump atau berinvestasi sejumlah tertentu sekaligus di satu waktu, biasanya di awal investasi. Umumnya ditempuh oleh orang dgn karakter penghasilan tak rutin.

Prita menilai, DCA merupakan strategi investasi paling optimal, walau belum tentu memberi return paling maksimal. “DCA bukan untuk mencari untung maksimal tapi strategi meminimalkan risiko investasi sehingga hasil investasi dapat optimal,” kata dia.

Maklum, bila Anda bukan seorang profesional di pasar modal, akan terlalu sulit dan berisiko berinvestasi berdasarkan pembacaan momentum pasar (market timing). Sedang strategi lumpsump biasanya memberi hasil maksimal ketika pasar diramal bakal bullish dalam jangka panjang.

Taufik menambahkan, strategi DCA dapat maksimal bila dikombinasikan dgn monitoring pasar (lihat tabel di halaman 16). “Bisa terjadi, kinerja NAB negatif namun pertumbuhan anggaran tetap positif,” ujarnya.

Contoh lain, taruh kata hasil investasi di instrumen jangka panjang, beberapa waktu terakhir telah hampir mendekati target. Boleh saja, anggaran yg telah berkembang itu Anda parkir dulu di instrumen risk free, seperti deposito, lalu tetap melanjutkan DCA.

Ketika harga produk investasi tengah turun, anggaran tersebut Anda masukkan lagi. “Dengan catatan, indikator teknikal ke depan ada sinyal bullish yg kuat,” kata Taufik.

Strategi DCA dikombinasikan dgn pembacaan pasar menjanjikan hasil lebih optimal. Namun, hal itu dapat berjalan apabila Anda memiliki pengetahuan dan waktu yg cukup untuk memahami pasar.

Bila Anda tak memiliki modal tersebut, lebih baik bermain aman dgn strategi DCA murni. “Siapa, sih, yg dapat konsisten timing the market?” kata Prita, retoris.

Aakar menambahkan, dalam berinvestasi untuk sebuah tujuan keuangan, ada prinsip penting yg perlu diingat. “Konsisten menghasilkan untung itu lebih baik daripada mengejar untung tertinggi,” ujarnya.

Khusus untuk tahun ini di mana pasar finansial dibayangi gejolak seiring rencana kenaikan kembang The Federal Reserves, para perencana keuangan kompak menilai, strategi DCA tetap paling oke di tengah situasi pasar demikian.

Silakan mengevaluasi!   

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.