Produk unik dan kreatif enggak cukup di kerajinan

Thursday, October 8th 2015. | Peluang Usaha

Kerajinan tangan memang identik dengan kreativitas. Tapi, sekadar menghasilkan produk kreatif dan unik enggak menjamin usaha kerajinan dapat sukses, lo. Maklum, banyak tantangan menghadang industri kerajinan.

Di sektor ekonomi kreatif, industri kerajinan menempati peringkat ketiga sebagai kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif. Tahun 2013 lalu, nilai tambah industri kerajinan sebesar Rp 92,65 triliun atau 14,44% dari total PDB ekonomi kreatif. Nilai tambah industri tersebut terus meningkat yg dibarengi nilai ekspor yg juga terus naik.

Meski terus meningkat, ekspor produk kerajinan dalam lima tahun terakhir sejatinya tergolong lesu. Padahal, produk kerajinan merupakan salah satu komoditas ekspor potensial Indonesia. Taufik Gani, Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), mengatakan, pelemahan ekspor produk kerajinan dalam lima tahun belakangan sebab perekonomian negara-negara tujuan ekspor kerajinan juga lagi lesu.

Cuma tahun ini, Taufik memperkirakan, ekspor produk kerajinan bakal naik signifikan.  Sebab, dalam beberapa kali pameran produk kerajinan di luar negeri akhir tahun lalu, banyak pengusaha kerajinan yg menjadi peserta memperoleh orderan dalam jumlah besar.

Makanya, Taufik optimistis, ekspor produk mebel dan kerajinan tahun ini dapat mencapai angka US$ 2 miliar. “Ada indikasi pembeli dari luar negeri meningkatkan belanja mebel dan kerajinan, terutama pembeli dari Jerman, Belanda, dan Prancis,” kata Taufik.

Saat ekonomi di negara pembeli lesu, otomatis pasar ekspor produk mebel dan kerajinan turut loyo. Maklum, mebel dan kerajinan bukan keperluan primer. Sebaliknya, saat perekonomian membaik, permintaan produk mebel dan kerajinan biasanya turut meningkat.

Namun, gairah pasar yg kembali bergairah bukan berarti tantangan industri kerajinan lenyap. Soalnya, industri kerajinan terutama kerajinan berbahan kayu dan rotan harus berhadapan dengan pesaing dari Vietnam, Filipina, serta Malaysia. Memang, bahan baku produk kerajinan di Indonesia melimpah. Sebaliknya, negara-negara kompetitor tak punya sumber bahan baku seperti kita. Namun kenyataannya, ekspor produk mebel dan kerajinan dari Vietnam dalam setahun mencapai US$ 5 miliar, jauh lebih tinggi ketimbang Indonesia. “Padahal, Vietnam tak punya bahan baku,” ujar Taufik.

Itu sebabnya, Taufik meminta, pemerintah harus dapat mengatasi penjualan bahan mentah kayu dan rotan dari Indonesia ke luar negeri. Dengan begitu, ekspor produk mebel dan kerajinan dari negara tetangga bakal merosot sehingga pembeli akan beralih ke Indonesia. Untuk memberantas illegal logging dan illegal trading, pemerintah pada 2012 lalu telah merilis aturan tentang sistem verifikasi dan legalitas kayu (SVLK) yg sedianya mulai berlaku tahun ini. Dengan mengantongi sertifikat legalitas kayu, produk kehutanan asal negeri ini dianggap berasal dari kayu sah, sehingga tak perlu melalui proses uji tuntas di negara pembeli.

Memang, aturan ini semula cukup memberatkan bagi industri kecil dan menengah. Tapi, akhir tahun lalu pemerintah akhirnya menyederhanakan aturan SVLK bagi pelaku usaha mebel dan kerajinan yg berlaku selama setahun. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyatakan, pelonggaran aturan ini untuk menggenjot kinerja ekspor khususnya sektor mebel dan kerajinan sampai nilainya mencapai US$ 5 miliar dalam lima tahun mendatang.

Orientasi pasar

Hanya, usaha meningkatkan ekspor juga semestinya dibarengi dengan upaya pengendalian harga barang di dalam negeri. Taufik menuturkan, kenaikan harga barang telah memicu kenaikan ongkos produksi produk mebel dan kerajinan. Padahal, pembeli luar negeri belum tentu mau diajak negosiasi ulang terkait harga produk. “Pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun lalu, harga bahan baku dan bahan penunjang naik sampai 20%,” keluh Stevanny Candra, pengusaha kerajinan tangan berbahan kulit asal Yogyakarta.

Pemerintah dapat saja menargetkan peningkatan ekspor. Namun, pemerintah juga mesti membantu pengusaha mencari pembeli. Menurut Wayan Sutiari Kardha, pengusaha kerajinan tangan kembang kering di Surabaya, pemerintah pusat maupun daerah biasanya memberikan fasilitas pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Cuma, semenjak tahun 2010 lalu, kesempatan mengikuti pameran semakin berkurang. “Pengusaha membutuhkan bantuan pameran untuk memperoleh pembeli,” ucap Wayan.

Taufik bilang, pemerintah selama ini memang telah cukup membantu pengusaha untuk promosi ke luar negeri, meski biaya ditanggung bersama. Tapi, bantuan promosi dari pemerintah masih kurang banyak dan kadang kurang tepat sasaran. “Pemerintah juga perlu meningkatkan pelatihan, baik pelatihan teknis maupun pelatihan kewirausahaan, bagi pengusaha kerajinan,” imbuh Soegiarto, Sekretaris Jenderal Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi).

Menurut Soegiarto, masih banyak pelaku usaha kerajinan belum berorientasi pasar. Mereka cukup menjual yg dapat mereka buat. Semestinya, pelaku usaha kerajinan harus didorong untuk dapat membuat produk yg dapat dijual. Karena itu, pelaku usaha kerajinan juga mesti selalu berinovasi dalam menciptakan produk dengan menampilkan kreasi baru.

Yang tak kalah penting, Soegiarto menambahkan, pelaku usaha kerajinan jangan cukup mengandalkan produk nan unik dan kreatif. Mereka juga harus dapat melahirkan produk yg  dapat dijual dan diterima pasar secara luas, dengan harga yg tak terlalu mahal.

Tentu, percuma saja jika produk unik tapi enggak laku.    

 

Laporan Utama
Mingguan Kontan, NO. 21-XIX, 2015

 

 

Search terms:

kerajinan dari besi dan cara pembuatannya, cara membuat cetakan lisplang beton, kerajinan dari besi, kerajinan las listrik, kerajinan besi, kerajinan tangan dari besi, usaha unik di luar negeri, kerajinan las besi, kerajinan tangan dari besi bekas, cara membuat kerajinan dari besi,

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.