Mencetak laba dari kreasi papergoods

Monday, December 25th 2017. | Peluang Usaha

Ciptaan desain dan warna yg diaplikasikan dalam sebuah kertas sehingga membentuk sebuah hasil karya yg kreatif dapat menjadi sebuah bisnis yg menguntungkan. Apalagi jika dijalankan dengan serius, kegiatan yg sarat kreativitas ini mampu mencetak pundi-pundi uang yg tak sedikit. Tidak cukup sebatas surat undangan, dengan berbagai inovasi, desain di media kertas ini dapat pula diaplikasi menjadi berbagai barang seperti tas kertas (paper bag), tempat perhiasan, wadah untuk kado, alas piring, amplop dan masih banyak lagi. Produk-produk ini populer disebut papergoods.

Lantaran peminatnya makin berkembang dari waktu ke waktu, pengusaha papergoods pun marak bermunculan. Daya tarik dari jasa ini adalah eksklusivitas produk yg dihasilkan. Ini menjadi ceruk pasar bagi konsumen yg menginginkan produk yg lebih personal serta tak pasaran. Oleh sebab itu, bisnis ini identik dengan keperluan untuk suvenir pernikahan, ulang tahun, atau momen spesial lainnya yg ingin dikenang.  

Leony Zefanya, pemilik usaha papergoods lewat situs usaha petitprint.net di Jakarta, mengatakan, bisnis ini cukup prospektif karena banyak orang yg mencari kartu undangan atau barang-barang yg berbentuk unik. Sebab ini dapat memberi kepuasan tersendiri bagi pelanggan.

Bersama dengan sang suami, Kristanto B. Prasetya, Leony tak cukup memproduksi undangan pernikahan dan ulang tahun, tapi juga berbagai produk yg dapat dipesan sesuai permintaan konsumen seperti buku tamu, buku menu untuk restoran, nomor meja, dan banyak lagi.

Gaya desain Petitprint lebih mengusung tema feminin dengan pemilihan warna serta permainan tipografi yg apik. Sehingga desainnya cocok untuk produk undangan yg sederhana namun tetap menarik dan unik. “Desain selalu disesuaikan dengan tema acara, visi dan keinginan klien. Dipadukan dengan kekhasan desain kami sehingga hasil produk tak dapat ditemui di tempat lain,” Ujar Leony yg telah memulai usaha ini semenjak tahun 2010 silam.

Selain papergoods, Leony kini makin melebarkan jasanya dengan mendesain situs dan printed materials seperti brosur, kartu nama, dan produk-produk pemasaran lainnya.

Sementara, Carysha Suamu, pemilik usaha Lalalov Gift asal Tasikmalaya, menjual aneka produk papergoods buatannya dalam model parsel ataupun party kit untuk berbagai acara spesial. Sehingga, mulai dari wadah, desain wadah sampai isi parsel disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

Misalnya, parsel dikemas cantik dengan diisi berbagai macam barang, seperti kue kering, cokelat, permen, kalender, atau boneka. “Namun saya juga dapat menjual satuan berbagai produk seperti paper bag, aneka wadah, dan kartu ucapan,” kata Carysha.

Promosi lewat online

Harga produk parsel buatan Carysha dibanderol dari Rp 100.000 sampai Rp 300.000 per paket. Dalam sebulan, Lalalov Gift dapat menjual sekitar 100 parsel sampai 150 parsel. Dari sini, Carysha dapat meraup keuntungan sampai Rp 20 juta per bulan. Namun, memasuki bulan-bulan tertentu seperti hari raya atau hari spesial lainnya, keuntungan yg didapat Carysha dapat meningkat sampai dua kali lipat.

Konsumen Carysha berasal dari berbagai daerah, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, sampai Kalimantan. Carysha juga pernah mendapat orderan dari salah satu agen di sebuah perusahaan asuransi di Indonesia. “Mereka biasanya pesan sebagai hadiah untuk klien,” kata Carysha.

Adapun produk undangan buatan Leony biasannya dibanderol mulai dari Rp 25.000 per unit. Biasanya pelanggan memesan sekitar 500 unit undangan. Leony membatasi cukup melayani tiga sampai lima klien per bulan agar tetap dapat menjaga kualitas produk buatannya. Musim-musim nikah sekitar bulan Juni dan Juli serta September dan November menjadi waktu Leony kebanjiran orderan. Dari sini Leony dapat meraup keuntungan sekitar Rp 62,5 juta per bulan.

Pengusaha papergoods lainnya yakni Veny Veronica dan Victor Alexander, membuat desain produk dengan terinspirasi kekayaan budaya Indonesia. Ini bertujuan untuk membedakan jasa mereka dibanding yg lain. Lewat merek usaha Grensi Papergoods yg berdiri 2013 lalu di Jakarta, Veny membuat kartu ucapan bermotif batik sebagai produk perdana. Kini, mereka juga memproduksi sarung notebook, tote bag, dan berbagai produk art print lainnya.

Produk Grensi Papergoods dijual mulai dari Rp 35.000 sampai Rp 175.000 per unit. Dalam tiga bulan mereka biasanya memproduksi sekitar 100 produk sampai 120 produk. Dalam sebulan, total keuntungan Grensi sekitar Rp 20 juta. “Margin dapat di atas 30% dari keuntungan,” kata Veny.

Hingga saat ini, Grensi baru mempunyai dua koleksi desain papergoods, yaitu batik dan papua. Produk mereka kini dipasarkan di empat toko suvenir yg tersebar di Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Selain itu, Veny juga gencar berpromosi lewat media sosial.

Carysha pun menempuh pemasaran lewat online di berbagai media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Path. Sedangkan Petitprint semenjak awal berdiri langsung membuat situs, blog dan profil sosial media yg bertujuan untuk merangkul konsumen secara online. “Sebisa mungkin kita mengunduh foto produk yg terlihat profesional untuk menarik klien,” kata Leony.

Sisanya adalah berusaha memberikan pelayanan yg terbaik. “Hampir semua konsumen kami yg puas akan merekomendasikan kami ke saudara atau teman yg akan menikah,” ujar Leony.

Cita-cita ke depannya, Leony ingin mengembangkan jasa pembuatan undangan di wedding website yg telah cukup populer beberapa tahun terakhir. Maksudnya, konsumen tak harus memcetak undangan, namun cukup membuat undangan di website dan mengirimkan link tersebut ke para tamu undangan. Sehingga, website ini menggantikan undangan secara fisik.

BOX:

Berbisnis produk-produk kreatif dari hasil desain sendiri memang membutuhkan kreativitas, ketelitian dan kemauan untuk belajar. Veny Veronica, pemilik usaha Grensi Papergoods mengatakan, modal utama adalah memiliki keterampilan desain. Selain itu, perlu ketelitian dan juga kemauan untuk terus belajar.

Veny bilang, proses pembuatan satu koleksi produk tema budaya Indonesia membutuhkan waktu sekitar satu bulan sampai dua bulan. Karena, harus melewati proses yg panjang mulai dari riset, pengembangan desain, sampai produksi.

Khusus untuk produksi kartu ucapan, Veny dapat mengerjakannya sendiri. Namun, untuk produk lainnya dia bekerjasama dengan penjahit. Veny mengatakan tak banyak kendala yg dihadapi dalam menjalani usaha ini karena dia memang suka dengan desain dan mendalami pendidikan desain. “Salah satu hambatan yg kerap terjadi adalah mendapatkan penjahit yg cocok dengan karakter diri,” kata dia.

Selain itu, Carysha Suamu, pemilik usaha Lalalov Gift, berpendapat, berbagai macam aspek lainnya juga mempengaruhi keberhasilan bisnis ini. Misalnya menetapkan target pasar yg tepat sehingga arah desain yg dibuat pun dapat menyesuaikan.

Sebagian besar konsumen dari jasa ini adalah orang-orang yg mengerti pentingnya desain undangan. Sehingga mereka tak keberatan untuk membayar lebih mahal untuk mendapatkan produk yg terbaik. Itu sebabnya harga jual pun lebih tinggi.

Profil konsumen Leony Zefanya, pemilik situs petitprint.net umumnya pasangan yg menikah di luar negeri, atau pasangan modern yg akan menikah di Bali.           

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.