Omzet kian gurih dari penikmat kuliner organik

Friday, September 25th 2015. | Peluang Usaha

Kian hari, kesadaran masyarakat tentang gaya hidup sehat semakin meningkat. Hal ini merombak pola hidup seseorang, terutama dari segi makanan. Selain dari proses pengolahan makanan, yg jadi perhatian khusus ialah bahan baku yg digunakan. Beberapa tahun belakangan, makanan olahan dari bahan baku organik tengah jadi tren.

Sebenarnya telah banyak pengusaha yg menggeluti bisnis penjualan bahan organik, mulai sayuran, buah, sampai daging ayam. Di swalayan kita dapat menemukan banyak merek produk yg berlabel organik. Akan tetapi, di samping berjualan produk, ternyata ada peluang usaha lain yg juga menjanjikan, yakni mengelola restoran atau kafe organik.

Menu yg ditawarkan restoran ini merupakan menu sehat. Artinya, makanan yg disajikan diolah menggunakan bahan baku organik. Jadi, dalam proses penanaman, tumbuhan tak terkena bahan kimia baik dari pupuk atau obat-obatan. Bahan baku organik dipercaya memiliki kandungan nutrisi dan kadar mineral yg lebih tinggi dari bahan makanan non-organik.

Selain dari proses penanaman, karakter organik dari suatu makanan dapat dilihat dari tempat penanaman. Helga Angelina dan Max Madias, founder dan owner Burgreens, menuturkan bahwa bahan organik yg diolah harus berasal dari kebun yg ada di sekitar lokasi pengolahan. “Jadi, bahan baku yg diimpor sebenarnya tak dapat dikatakan organik lagi, walau dari metode pertaniannya tak dengan bahan kimia,” jelas Max.

Pasalnya, menurut mereka, pengertian organik secara sederhana ialah produk lokal. Jarak antara kebun dengan meja makan diusahakan sedekat mungkin. Logikanya, jika bahan harus diimpor, bahan bakar yg digunakan pun banyak. Ini tak lagi mendukung konsep organik yg ramah lingkungan.

Pengalaman pribadi

Kebanyakan orang yg terjun di usaha restoran organik berangkat dari pengalaman pribadi. Helga dan Max misalnya. Helga mengatakan sering mengonsumsi obat-obatan kimia semenjak kecil. Namun pada usia 14 tahun, ia memutuskan jadi vegetarian dan menjalani gaya hidup sehat. Demikian pula Max yg semenjak 2012 riset tentang vegetarian dan tertarik beralih seperti Helga. Saat itu keduanya masih tinggal di Belanda.

Lantas, Helga dan Max pun kembali ke Indonesia untuk membuka restoran yg sesuai dengan gaya hidup mereka. “Tadinya kami mau buka usaha online, tapi ternyata ada rekan kami, Banyu Bening, yg punya tempat, jadi kami buka kafe yg menyajikan makanan dari bahan organik di Rempoa, Jakarta Selatan,” kata Helga.

Burgreens pun dibuka pada November 2013. Helga mengatakan, awalnya kebanyakan pengunjung kafe mereka merupakan warga asing alias bule yg memang telah lebih paham mengenai gaya hidup sehat. Lalu, kafe mereka juga sering dikunjungi beberapa selebritas seperti Sharena Gunawan, Titi Dj, serta Dewi Lestari bersama suaminya Reza Gunawan. Pemasaran dari mulut ke mulut pun terjadi sehingga kafe mereka ramai pengunjung. Bahkan, enam bulan belakangan, mereka melihat, antusiasme warga lokal untuk menikmati sajian organik Burgreens pun semakin besar.

Max menuturkan, peluang untuk membuka usaha restoran organik cukup besar. Apalagi mereka mengusung konsep restoran untuk pelaku vegan dan vegetarian. Saat ini, pilihan restoran bagi penganut makanan tanpa sumber hewani tergolong minim.

Namun yg penting, pemain usaha ini merupakan orang yg juga punya gaya hidup sehat. “Pemilik restoran harus living the brand. Kalau sang owner saja masih makan makanan tak sehat, bagaimana pengunjung percaya bahwa makanan yg disajikan memang sehat dan dari bahan-bahan organik,” tandas Helga.

Kisah serupa dialami oleh pasangan suami istri, Hendra Alamin dan Yosefina Skolastika yg membuka rumah makan Sedap Alami di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Selatan, dan Puri Kembangan, Jakarta Barat. Seusai sang istri, Yosefina, menjalani operasi tumor, gaya hidup mereka berubah total. Keluarga mereka cukup mengonsumsi makanan sehat, terutama bahan organik.

Hingga pada 2005, mereka membeli sebidang lahan di Ci-sarua, Bogor, untuk ditanami sayuran organik. “Awalnya untuk dikonsumsi sendiri, tapi karena semakin banyak hasil panennya, kami pun membuka rumah makan dengan menu utama makanan dari sayuran organik,” ujar Hendra.

Hendra mengatakan pada saat itu, Sedap Alami merupakan satu-satunya restoran yg mengolah makanan dari kebun sendiri. Sekarang, konsep itu telah diadaptasi oleh banyak restoran yg juga menyajikan makanan organik.

Pasangan ini mengawali usahanya di Bendungan Hilir untuk menyasar para karyawan di kawasan tersebut. Mereka membeli ruko yg dijadikan restoran berkapasitas 20 orang. Lantas, melihat pertumbuhan penjualan yg bagus, mereka menambah gerai di Jakarta Barat yg menargetkan keluarga di sekitar komplek restoran. Hendra bilang, ketika merintis usaha ini, mereka merogoh kocek lebih dari Rp 100 juta sebagai modal.

Selain untuk tempat, modal itu juga digunakan untuk membeli peralatan masak yg berkualitas. “Kami menggunakan produk dari Amerika, yaitu Saladmaster, yg terbuat dari titanium,” kata dia.

Menurut Hendra, peralatan masak juga mempengaruhi kualitas makanan yg disajikan. Kebanyakan restoran masih memasak dengan peralatan dari alumunium. Padahal, kata dia, bahan alumunium menimbulkan reaksi kimia yg dapat menempel pada masakan.

Berbeda lagi dengan Max dan Helga yg mengeluarkan modal sebesar Rp 220 juta. Modal itu digunakan untuk menyuplai bahan baku organik dari berbagai pemasok, seperti Yayasan Usaha Mulia dan Organic Club. “Modal terbesar dikeluarkan untuk mengubah tempat usaha yg tadinya kos-kosan jadi kafe,” kata Helga.

Selama sebulan, mereka merombak tempat tersebut sehingga jadi kafe dengan kapasitas 30 orang. Dekorasinya pun dibuat senatural mungkin tanpa pendingin ruangan. Kebanyakan meja makan diletakkan di luar ruangan dengan meja dan kursi dari perpaduan bahan kayu dan besi. Kafe ini juga dikelilingi oleh pepohonan yg membuat pengunjung merasakan atmosfir yg tenang.

Baik Burgreens maupun Sedap Alami memiliki dapur produksi tersendiri yg terpisah dari restoran. Di dapur ini, kebanyakan pembuatan makanan dilakukan. “Selain untuk restoran, tempat untuk dapur juga harus diperhatikan agar selalu bersih dan ramah lingkungan,” kata Hendra.

Tonjolkan menu

Layaknya restoran biasa, pengusaha restoran organik pun fokus pada menu yg mereka tawarkan pada konsumen. Max dan Helga mengangkat burger sebagai menu utama di kafe mereka. Alasannya, burger merupakan kuliner yg sangat populer.

Namun selama ini, burger dianggap makanan tak sehat karena proses pembuatan dan bahan baku yg digunakan untuk kuliner ini. “Kami mau mengubah persepsi itu,” tutur Max yg memegang peranan untuk inovasi menu.

Dia menggunakan gandum untuk bahan pembuatan roti burger. Sementara itu, untuk patty yg biasanya dari daging, Max ubah menjadi sayuran organik, seperti bayam, jamur, dan kacang-kacangan.

Max menegaskan, Burgreens memang punya tujuan untuk membuat makanan sehat yg enak. Jadi, konsumen yg menikmati sajian Burgreens tak perlu merasa resah dengan kandungan dari makanan yg disantapnya.

Selain burger, Burgreens juga menyajikan menu lain, seperti aglio olio, nugget dari jamur dan kacang-kacangan, keripik kentang manis, dan beragam salad. Sekitar 80% menu ini dapat dinikmati oleh vegan dan vegetarian.  Untuk menikmati menu ini, konsumen membayar harga di kisaran Rp 22.000 sampai Rp 80.000 per porsi.

Di samping itu, Burgreens juga menawarkan minuman sehat, seperti jus dan smoothies dari sayur dan buah, serta pencuci mulut es krim dari buah dan kacang-kacangan. Untuk minuman, Max dan Helga membanderolnya seharga Rp 10.000–Rp 45.000 per gelas. Sejak empat bulan terakhir, Burgreens juga memperkenalkan raw food alias makanan yg tak melalui proses masak. Menurut mereka, belum banyak restoran yg menyajikan raw food untuk konsumen.

Pada hari-hari biasa, pengunjung Burgreens sekitar 20 orang–40 orang. Namun, pada akhir pekan jumlah ini meningkat jadi 50 orang sampai 100 orang per hari. Adapun karyawan di kafe ini sekarang mencapai 25 orang.

Selain menyajikan makanan di kafe, Burgreens juga melayani pemesanan untuk dikirim maupun untuk latering. “Biasanya kami melayani katering untuk event di sekolah atau untuk perusahaan,” jelas Max.

Berbeda dengan Burgreens, Sedap Alami lebih memilih makanan tradisional sebagai menu di rumah makannya. Misalnya saja mi dari sayur-sayuran, seperti wortel dan sawi, nasi goreng vegan, tahu kok. “Semua kami bikin sendiri, contohnya tahu, kami buat dari kacang kedelai dari kebun sendiri,” cetus Hendra.

Selain menu utama, Sedap Alami juga menyajikan panganan tradisional seperti kue apem dari ubi jalar, bagelen, dadar gulung hijau suji, bakpau labu, timus singkong, dan kembang tahu. Berbagai menu ini ditawarkan dengan kisaran harga Rp 3.000–Rp 25.000 per porsi.

Pengunjung rumah makan Sedap Alami berkisar 50 orang–100 orang per hari. Hendra mengatakan dapat meraup keuntungan Rp 170 juta per bulan dari usaha ini. Adapun laba bersih untuk makanan organik, kata Hendra, lebih kecil dibandingkan makanan non-organik. “Laba bersih tak besar, masih di bawah 50 persen,” ucap dia.     

 

Tak dapat 100% organik

Mengonsumsi makanan organik memang dipercaya lebih aman bagi tubuh karena makanan ini tak terpapar pestisida dan pupuk buatan. Namun, para pemilik restoran makanan organik mengatakan tak dapat menyajikan menu yg sepenuhnya berasal dari bahan organik.

Helga Angelina, founder dan owner Burgreens, mengatakan dapat dikatakan hampir tak ada restoran yg 100% menyajikan makanan organik. Sebanyak 85% kuliner di Burgreens menggunakan bahan organik. Sisanya, walaupun tak organik, pastinya harus sesuai dengan misi makanan sehat yg diusung restoran. “Sebisa mungkin makanan tak mengandung bahan kimia yg berbahaya untuk tubuh, misalnya tak menggunakan penyedap buatan,” ucap perempuan berusia 24 tahun ini.

Demikian juga dikatakan oleh Hendra Alamin, owner Sedap Alami. Ada bahan baku yg tak organik di rumah makannya, seperti ikan. “Namun saya dapat pastikan ikan yg saya gunakan tak mengandung formalin karena saya tak beli di pasar atau supermarket tapi melalui eksportir. Ikan itu telah diuji di laboratorium dan negatif formalin,” ungkap Hendra.               

 

Search terms:

contoh ekonomi kreatif makanan, cara membuat serbet dari kain bekas, cara membuat pengharum ruangan dari kulit jeruk, cara membuat keset dari handuk bekas, kaligrafi dari kain perca, cara membuat kaligrafi dari kain perca, cara membuat pewangi ruangan dari kulit jeruk, serbet dari kain perca, cara membuat pewangi dari kulit jeruk, membuat kaligrafi dari kain perca,

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.