Kocek tetap aman saat pensiun

Thursday, December 21st 2017. | Personal Finance

Apa yg terlintas dalam benak Anda ketika mendengar kata pensiun?  Mungkin sebagian besar orang akan mengidentikkan masa pensiun dengan masa tua, tak lagi berjibaku mencari nafkah, hidup bersahaja, ngemong cucu, menghadapi risiko pikun, post power syndrome, dan lain sebagainya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pensiun berarti tak lagi bekerja karena masa tugas telah usai. Mengikuti definisi itu, masa pensiun artinya Anda tak lagi bekerja formal. Oleh karenanya, tingkat penghasilan pun kemungkinan telah tak lagi sama seperti saat masih bekerja dahulu. Bahkan, cenderung lebih sedikit mengingat produktivitas Anda berhenti.

Anda beruntung bila termasuk kalangan yg telah memiliki persiapan pensiun memadai, misalnya berupa bekal pensiun yg telah mencukupi. Namun, tak sedikit kalangan yg memasuki pensiun dengan persiapan seadanya. Uang pensiun dari kantor pas-pasan, sedang keperluan hidup terus meningkat. Bila Anda termasuk kalangan ini, sah-sah saja apabila terpikir untuk kembali produktif secara finansial.

Bagaimana caranya? Karena sektor formal telah tak menyediakan tempat bagi usia pensiun untuk terus bekerja, jalan satu-satunya adalah bekerja di sektor non-formal.

Sari Insaniwati, perencana keuangan dari MRE Financial & Business Advisory, berujar, ada banyak pilihan yg dapat Anda jajaki agar tetap produktif secara finansial walau telah memasuki kategori usia pensiun, antara lain memulai bisnis atau memanfaatkan aset yg Anda miliki agar dapat terus memberikan penghasilan rutin. Misalnya, memanfaatkan rumah yg tak ditinggali sebagai kontrak-an atau menginvestasikan sebagian tabungan hari tua di instrumen fixed income atau pendapatan tetap, seperti deposito dan sukuk ritel.

Pilihan lain adalah menjadi tenaga profesional sesuai keahlian yg Anda miliki. Misalnya, dahulu Anda bekerja di bidang perpajakan. Ketika telah pensiun, Anda dapat menjajaki karier sebagai konsultan pajak. Beberapa profesi juga dapat tak mengenal pensiun, seperti dokter, arsitek, dan lain lain.

Diana Sandjaja, perencana keuangan Tatadana Consulting, menambahkan, dapat pula Anda mengoptimalkan jaringan kerja atau relasi Anda dan merintis profesi sebagai broker atau middleman. “Manfaatkan pengalaman selama bekerja dengan mengajar, memberi seminar, atau menjadi konsultan,” kata Diana.

Sari menimpali, apa pun kegiatan masa pensiun yg hendak Anda pilih, sebaiknya Anda telah membuat persiapan atau rintisan setidaknya satu atau dua tahun sebelum masa pensiun tiba.

Bila memilih bisnis

Nah, bila Anda cenderung lebih sreg memulai usaha atau berbisnis sebagai aktivitas saat pensiun agar tetap berpenghasilan, saatnya kini bergerak. Sari menyebutkan beberapa kriteria usaha yg dapat dirintis oleh pensiunan. Pertama, usaha dengan risiko relatif rendah dan pendapatan stabil.

Kedua, usaha yg mudah dijalankan dan tak meminta stamina tinggi. Ketiga, usaha yg nilainya terus meningkat walaupun didiamkan. Keempat, usaha yg sesuai dengan minat dan keahlian.

Bisnis yg sesuai dengan beberapa kriteria tersebut, ujar Sari, antara lain usaha di sektor riil, seperti peternakan, pertanian, perkebunan, pariwisata, jasa, dan bisnis properti. Pilihan lain adalah membeli waralaba. “Dengan menjalankan bisnis waralaba, kita telah memotong masa belajar karena sistemnya telah disiapkan franchisor,” jelas Sari.

Berikut ini beberapa hal yg perlu Anda lakukan bila ingin menjadi entrepreneur di masa pensiun:

Amankan kocek
Berbisnis tetap memiliki risiko. Maka itu, ketika hendak merintis usaha dalam kondisi telah pensiun, Anda tak dapat asal tubruk. Posisi sebagai pensiunan yg berpenghasilan terbatas menuntut Anda lebih cermat mengatur kocek. “Amankan anggaran untuk keperluan sehari-hari di instrumen dengan return stabil seperti deposito atau anuitas,” saran Diana.

Alhasil, untuk keperluan sehari-hari kelak, Anda tak mengandalkan hasil dari bisnis yg baru dirintis. Dana darurat juga tetap perlu Anda siapkan sebagai antisipasi. Sedang untuk keperluan bisnis, gunakan anggaran lain di luar anggaran untuk keperluan sehari-hari.

Siapkan modal
Supaya kocek tetap aman di masa pensiun, merintis usaha lebih baik memakai modal sendiri alias bukan anggaran utang. Jangan pula menginvestasikan seluruh anggaran modal yg Anda miliki untuk satu bisnis saja. Cadangkan sebagian anggaran sebagai antisipasi apabila percobaan bisnis pertama Anda gagal. “Kecenderungan gagal bisnis start up cukup besar,” kata dia.

Konsep bisnis
Memulai usaha tak dapat ujug-ujug berhasil. Agar lebih matang, siapkan rencana bisnis yg jelas. Tidak perlu terlalu rumit. Cukup perjelas jenis usaha, pasar atau konsumen yg disasar, kondisi persaingan di bidang usaha tersebut, rencana pemasaran, dan apa keunikan bisnis (unique selling point). Tidak lupa, simulasi usaha berisi analisis balik modal, proyeksi arus kas, dan sebagainya.

Bila harus berutang
Lantas, bagaimana jika modal untuk bisnis tak ada atau kurang memadai? Bolehkah melirik utang atau kredit bank? Para perencana keuangan kompak tak menyarankan hal itu.  “Jika bisnis masih baru dan belum memberi pendapatan yg stabil, belum waktunya kita ambil kredit dengan cicilan rutin,” jelas Diana.

Maklum, pendapatan seorang pensiunan umumnya jauh lebih kecil ketimbang yg masih produktif. Akan terlalu berisiko jika memulai usaha pada saat pensiun dengan modal utang. “Kalaupun mengambil kredit saat pensiun, penggunaannya adalah untuk ekspansi usaha yg telah ada. Bukan untuk merintis usaha,” tegas Budi Raharjo, perencana keuangan OneShildt Financial Planning.

Jika memang anggaran pribadi Anda tak memadai sebagai modal bisnis yg hendak Anda rintis, masih ada jalan lain. Rakhmi Permatasari, perencana keuangan dari Safir Senduk dan Rekan, menyarankan Anda untuk menggandeng investor atau penanam modal. “Ajak kerjasama teman atau saudara sebagai rekan bisnis sehingga modal usaha tak 100% berasal dari utang,” kata dia.

Nah, bila memang harus berutang untuk modal usaha rintisan, Anda harus memperhatikan hal-hal berikut ini agar utang tak jadi malapetaka di masa pensiun Anda. Pertama, kemampuan membayar cicilan utang. “Apakah uang pensiun yg Anda terima cukup untuk melunasi pinjaman dan menopang hidup?” kata Rakhmi.

Hindari berasumsi cicilan utang akan Anda bayar dari hasil usaha yg kategorinya start up. Buat simulasi apabila mengambil kredit dengan cicilan sekian rupiah per bulan ditambah pengeluaran sehari-hari, apakah Anda masih dapat leluasa mengatur kocek Anda?

Kedua, penggunaan anggaran utang. Beberapa bank saat ini menawarkan kredit untuk pensiunan. Syaratnya mudah. Surat keputusan (SK) pensiun jadi jaminan karena pembayaran cicilan utang dipotong langsung dari uang pensiun debitur.

Beberapa bank tak ketat membatasi peruntukan kredit apakah cukup untuk usaha atau dapat untuk kegiatan konsumtif. Bila Anda tak memiliki komitmen kuat dan hitungan jelas tentang penggunaan anggaran, lebih baik tak melirik tawaran kredit tersebut. Risiko terlalu besar. Maklum, kebanyakan kembang kredit pensiunan memakai kembang flat. Artinya, kembang utang dihitung berdasarkan nilai total utang, tanpa melihat nilai pokok utang yg telah dibayarkan debitur.

Singkat kata, kembang flat identik dengan harga mahal. Berusaha tetap produktif ketika pensiun adalah hal baik, tapi pastikan caranya tepat agar kocek tetap sehat!

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.